jump to navigation

Solar Cells Generasi ketiga: Teknologi Nano February 1, 2007

Posted by tfugm02 in Energi Alternatif.
trackback

Dr. Brian Yuliarto
Jangan Berdiam di ”Comfort Zone”!

Seorang doktor di bidang nano technology yang baru menyelesaikan program post doctoral di Energy Technology Research Institute, National Institute of Advanced Industrial Science and Technology Jepang. Sampai saat ini masih terlihat bersemangat menyerukan penyelamatan negara lewat wacana energi alternatif. Simak obrolan hangat dari pandangannya mengenai ancaman akan permasalahan energi hingga pandangannya mengenai gerakan mahasiswa saat ini, kepada Kampus yang berlangsung di kampus ITB.

Mengapa sekarang fokus ke energi?

Karena energi itu masalah penting dan fundamen. Masalahnya pertahanan energi kita tidak kuat. Indikasinya ketika harga minyak dunia naik, maka harga bahan bakar minyak (BBM) pun naik tanpa melihat daya beli masyarakat yang lemah. Ini sebenarnya pola pemerintah yang masih berpikir linier. Ketika minyak dunia naik, APBN defisit, harga BBM harus naik juga. Padahal, ketika minyak naik, BBM nggak perlu naik. Caranya, bahan bakar minyaknya ini kita ubah. Ganti dengan energi alternatif, contoh dengan batu bara yang lebih murah. Di situlah kita butuh kebijakan energi yang tangguh, salah satunya dengan mempercepat proses diversifikasi energi.

Dari mana kita bisa memulai diversifikasi energi?

Salah satu contoh adalah harus ada dorongan yang kuat dari pemerintah untuk mempercepat proses teknologi pencairan batu bara, sehingga bisa digunakan secara praktis oleh masyarakat. Batu bara kan jauh lebih murah dari minyak bumi. Sehingga ketika ketergantungan terhadap minyak bumi ini sudah berkurang, pada saat kenaikan BBM kemarin, kita seharusnya ekspor minyak, dan mulai gunakan batu bara yang lebih murah. Bukan menggunakan yang mahal malah mengekspor yang murah.

Manfaat konkret dari diversifikasi energi?

Di Jepang ketika harga minyak dunia naik 50%, harga BBM di sana naik pula 50%. Tapi ini tidak membuat harga-harga kebutuhan lainnya ikut naik. Karena mereka mengembangkan sebuah sistem ketahanan energi yang baik. Hal ini kemudian menjelaskan hubungan antara transportasi dan energi. Alat transportasi massal di sana menggunakan energi alternatif yang lepas dari ketergantungan asing atau harganya tidak fluktuatif. Salah satunya dengan mengembangkan solar cell yang menyuplai listrik untuk kereta api listrik yang menjadi sarana transportasi utama.

Kesadaran di tengah masyarakat Indonesia sendiri mengenai diversifikasi energi?

Seharusnya dengan momentum harga BBM kemarin, masyarakat banyak sadar. Betapa ternyata energi kita sangat rapuh. Seharusnya menjadi momentum, sehingga masing-masing pihak bekerja menuju arah yang sama. Dan seharusnya teman-teman mahasiswa cukup aktif mengkaji isu-isu seperti ini. Isu-isu nasional, yang ketika usia kita nanti pada posisi pemegang kebijakan akan jadi masalah besar dan pelik.(dalam salah satu karya tulisnya yang dimuat dalam “Serba-Serbi Energi, 2005″, Dr. Brian memaparkan akan keterlambatan proses diversifikasi energi di Indonesia yang akan menghadapi kelangkaan minyak bumi dalam kurun waktu 18 tahun ke depan. Kisaran waktu ketika generasi muda sekarang akan berada pada usia di level-level pemegang kebijakan-).

Yang Anda cermati dari sensitivitas mahasiswa sekarang terhadap isu-isu nasional terutama energi? 

Masih sangat kurang dan lebih dominan pada hal-hal yang bersifat entertain dibanding kajian-kajian yang sebenarnya kita butuh. Di negara-negara maju seperti Jepang, semua sistem sudah berjalan bagus, pemerintah punya dana yang cukup besar, penelitian serius sekali mereka garap, scientific culture sudah sangat tumbuh. Anak muda di sana cukup hedonis, tetapi karena sistem sudah stabil, generasi muda cukup mau nggak mau terbawa sistem. Mereka funky, tapi kalau malam begadang juga meneliti. Sedangkan negara kita kan masih berkembang dan membangun sistem.

Bagaimana Anda membaca gerakan mahasiswa saat ini?

Permasalahannya sekarang mahasiswa kehilangan orientasi gerakan. Dia tidak memahami ada di fase apa dia sekarang. Tidak bisa merumuskan gerakan apa yang strategis yang bisa dikontribusikan untuk negara kita. Ini yang membuat atmosfer gerakan mahasiswa tidak ada di hampir semua kampus. Sangat disayangkan, karena bagaimanapun gerakan mahasiswa sangat vital dalam proses perubahan sistem.

Fase apakah yang seharusnya mahasiswa jalani saat ini?

Kalau yang saya perhatikan pascagerakan mahasiswa reformasi 1998, setelah sukses mendobrak otoritarian itu, langkah berikutnya adalah fase contain. Gerakan yang sifatnya contain. Saya sendiri cukup interest kalau diundang ke temen mahasiswa. Karena saya juga ingin mengajak teman-teman mahasiswa berpikir, kita nih jangan berdiam di kelompok comfort zone. Sehingga paradoks. Kampus dan masyarakat sekarang paradoks. Padahal seharusnya kampus menyuarakan apa yang dirasakan masyarakat. Masyarakat kita sekarang kan sangat berat. Satu kepala pendapatannya rata-rata Rp 400.000,00, itu berdasarkan WHO. Jadi, kalo suami istri gajinya masing-masing Rp 400,000,00, maka berdua hanya Rp 800.000,00 dan itu merupakan pendapatan 50% penduduk Indonesia. Kalo kemudian kampus seperti apa yang kita lihat sekarang, acara senang-senang, entertainment dsb., itu kan potret masyarakat atau komunitas yang tidak ada masalah. Saya pikir amanat negara kepada mahasiswa bukan seperti itu.

Langkah konkret mengisi fase contain sendiri yang paling cocok saat ini?

Melakukan kajian-kajian contain movement. Kajian yang bisa mendorong pimpinan-pimpinan kampus yang notabene sebenarnya mereka mempunyai kompetensi yang sangat baik mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi, sehingga pembangunan sistem di
Indonesia tidak hanya didominasi politisi.
Ini memang tugas mahasiswa bukan masuk ke wilayah kajian core-nya. Agak berat mahasiswa memberikan rekomendasi contohnya di bidang kebijakan energi. Tapi, dia bisa mewadahi.

Adakah energi alternatif yang Anda coba bangun sendiri?

Solar cell generasi ketiga yang memanfaatkan tumbuh-tumbuhan (organik). Ini masih dalam proses, efisiensinya masih kecil 11%, sedangkan yang konvensional (berbahan silikon) 16-20%. Namun keuntungannya harganya jauh lebih murah dibanding generasi pertama yang terbuat dari silikon dan salah satu bahan dasarnya mudah ditemukan di
Indonesia yaitu Zno (zinc-bahan dasar seng). Pengembangannya menggunakan teknologi nano yang memungkinkan sel-sel tumbuhan tadi masuk ke pori-pori Zno berukuran nano.*** www.pikiran-rakyat.com

Comments»

No comments yet — be the first.