Meski Pasar Besar, Disayangkan Sedikit Industri Tertarik Kembangkan Sel Surya February 15, 2007
Posted by tfugm02 in Energi Alternatif.trackback
Sangat disayangkan sedikitnya industri yang tertarik memproduksi sel surya di Indonesia, padahal industri sel surya sedang “booming” di dunia dan sangat dibutuhkan banyak daerah terpencil dan kepulauan di Indonesia.
“Pasokan sel surya sekarang sulit, negara-negara pemasoknya seperti Jerman, Australia dan China kini sering menolak permintaan ekspor ke Indonesia, mereka sendiri butuh banyak,” kata Peneliti Puslit Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, Ika Ismed di Bandung, Kamis.
Kondisi geografis di banyak daerah Indonesia yang sulit dijangkau PLN, dan melimpahnya sinar matahari tropis membuat energi surya menjadi alternatif yang baik untuk memenuhi kebutuhan listrik perumahan.
LEN Industri sebagai satu-satunya industri yang bergerak dalam pengembangan modul surya dan komponen elektronik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), ujarnya, juga “kewalahan” dengan pasokan yang semakin tersendat itu, padahal permintaan, khususnya dari Indonesia Timur, banyak.
Selain itu, Perpres no 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, kata Ika, telah menentukan sasaran pengembangan PLTS 2005-2025 mencapai kebutuhan sangat besar yakni 815 MWp (Mega Watt peak).
Mengapa industri tak tertarik pada pengembangan sel surya tersebut meski ke depan peluang pasarnya sangat besar, menurut dia, karena kurang kompetitif dibanding pengembangan energi listrik lainnya dan masih mahalnya harga sel surya impor.
LIPI sendiri, lanjut dia, sudah melakukan kerjasama riset bersama LEN sejak 2004 dan sudah menghasilkan prototipe sel surya silikon (Si) multikristal dengan dimensi 10×10cm2 dengan harga 3,3 dolar AS per sel.
“Meski dibanding sel surya impor yang harganya 3,2 dolar AS per sel, produk LIPI masih lebih mahal, tetapi jika diproduksi massal misalnya 5.000 sel per bulan atau lebih banyak lagi maka harganya akan menurun,” katanya.
Saat ini LEN, ujarnya, menjual modul surya (yang terdiri dari 36 sel surya impor) dengan harga Rp2 juta per modul, sedangkan harga PLTS 50 Wp seharga Rp3,5 juta yang bisa dipakai di perumahan dijamin mampu beroperasi hingga 15 tahun.
“Masalah mahalnya PLTS ini seharusnya bisa dipecahkan dengan berupaya menguasai teknologi fabrikasi ke arah hulu secara terencana dengan menguasai teknologi fabrikasi sel surya,” katanya.
Untuk mengembangkan PLTS, ujarnya, ada lima tahap, namun baru dua tahap yang dikuasai dengan menggunakan sel surya impor, yakni integrasi modul surya dan fabrikasi komponen elektronik serta fabrikasi modul surya.
Sedangkan tahap ketiga yang lebih ke hulu, yakni fabrikasi sel surya, fabrikasi wafer silikon hingga tahap lima yakni penyediaan bahan subtrat belum dikuasai dan masih tergantung pihak luar, ujarnya. (Antara) Sumber : Suara Karya (28 September 2006)
Comments»
No comments yet — be the first.