<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Solar Cells Technology on Forum</title>
	<atom:link href="http://tfugm2002.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tfugm2002.wordpress.com</link>
	<description>Senantiasa Komitmen Membangun Kebersamaan Menuju Peradaban yang Menyelamatkan Umat Manusia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Feb 2007 07:30:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tfugm2002.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Solar Cells Technology on Forum</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tfugm2002.wordpress.com/osd.xml" title="Solar Cells Technology on Forum" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tfugm2002.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Meski Pasar Besar, Disayangkan Sedikit Industri Tertarik Kembangkan Sel Surya</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/15/meski-pasar-besar-disayangkan-sedikit-industri-tertarik-kembangkan-sel-surya/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/15/meski-pasar-besar-disayangkan-sedikit-industri-tertarik-kembangkan-sel-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Feb 2007 06:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/15/meski-pasar-besar-disayangkan-sedikit-industri-tertarik-kembangkan-sel-surya/</guid>
		<description><![CDATA[Sangat disayangkan sedikitnya industri yang tertarik memproduksi sel surya di Indonesia, padahal industri sel surya sedang &#8220;booming&#8221; di dunia dan sangat dibutuhkan banyak daerah terpencil dan kepulauan di Indonesia. &#8220;Pasokan sel surya sekarang sulit, negara-negara pemasoknya seperti Jerman, Australia dan China kini sering menolak permintaan ekspor ke Indonesia, mereka sendiri butuh banyak,&#8221; kata Peneliti Puslit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=39&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Sangat disayangkan sedikitnya industri yang tertarik memproduksi sel surya di Indonesia, padahal industri sel surya sedang &#8220;booming&#8221; di dunia dan sangat dibutuhkan banyak daerah terpencil dan kepulauan di Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">&#8220;Pasokan sel surya sekarang sulit, negara-negara pemasoknya seperti Jerman, Australia dan China kini sering menolak permintaan ekspor ke Indonesia, mereka sendiri butuh banyak,&#8221; kata Peneliti Puslit Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, Ika Ismed di Bandung, Kamis. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Kondisi geografis di banyak daerah Indonesia yang sulit dijangkau PLN, dan melimpahnya sinar matahari tropis membuat energi surya menjadi alternatif yang baik untuk memenuhi kebutuhan listrik perumahan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">LEN Industri sebagai satu-satunya industri yang bergerak dalam pengembangan modul surya dan komponen elektronik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), ujarnya, juga &#8220;kewalahan&#8221; dengan pasokan yang semakin tersendat itu, padahal permintaan, khususnya dari Indonesia Timur, banyak. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Selain itu, Perpres no 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, kata Ika, telah menentukan sasaran pengembangan PLTS 2005-2025 mencapai kebutuhan sangat besar yakni 815 MWp (Mega Watt peak). </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Mengapa industri tak tertarik pada pengembangan sel surya tersebut meski ke depan peluang pasarnya sangat besar, menurut dia, karena kurang kompetitif dibanding pengembangan energi listrik lainnya dan masih mahalnya harga sel surya impor. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">LIPI sendiri, lanjut dia, sudah melakukan kerjasama riset bersama LEN sejak 2004 dan sudah menghasilkan prototipe sel surya silikon (Si) multikristal dengan dimensi 10x10cm2 dengan harga 3,3 dolar AS per sel. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">&#8220;Meski dibanding sel surya impor yang harganya 3,2 dolar AS per sel, produk LIPI masih lebih mahal, tetapi jika diproduksi massal misalnya 5.000 sel per bulan atau lebih banyak lagi maka harganya akan menurun,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Saat ini LEN, ujarnya, menjual modul surya (yang terdiri dari 36 sel surya impor) dengan harga Rp2 juta per modul, sedangkan harga PLTS 50 Wp seharga Rp3,5 juta yang bisa dipakai di perumahan dijamin mampu beroperasi hingga 15 tahun. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">&#8220;Masalah mahalnya PLTS ini seharusnya bisa dipecahkan dengan berupaya menguasai teknologi fabrikasi ke arah hulu secara terencana dengan menguasai teknologi fabrikasi sel surya,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Untuk mengembangkan PLTS, ujarnya, ada lima tahap, namun baru dua tahap yang dikuasai dengan menggunakan sel surya impor, yakni integrasi modul surya dan fabrikasi komponen elektronik serta fabrikasi modul surya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Sedangkan tahap ketiga yang lebih ke hulu, yakni fabrikasi sel surya, fabrikasi wafer silikon hingga tahap lima yakni penyediaan bahan subtrat belum dikuasai dan masih tergantung pihak luar, ujarnya. (Antara) </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Sumber : Suara Karya (28 September 2006) </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=39&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/15/meski-pasar-besar-disayangkan-sedikit-industri-tertarik-kembangkan-sel-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI (ENERGI HIJAU)</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/14/kebijakan-pengembangan-energi-terbarukan-dan-konservasi-energi-energi-hijau/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/14/kebijakan-pengembangan-energi-terbarukan-dan-konservasi-energi-energi-hijau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 04:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/14/kebijakan-pengembangan-energi-terbarukan-dan-konservasi-energi-energi-hijau/</guid>
		<description><![CDATA[a. Kebijakan Investasi dan Pendanaan Investasi di bidang energi terbarukan dan konservasi energi perlu terus ditingkatkan secara lebih merata dengan memberikan desempatan seluas-luasnya kepada kalangan swasta, koperasi BUMN, dan badan usa milik daerah (BUMD) Pemerintah Daerah perlu didorong agar dapat menciptakan iklim investasi energi terbarukan dan konservasi energi gunamenarik investor. Kegiatan pengembangan energi terbarukan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=38&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span><font face="Times New Roman">a. Kebijakan Investasi dan Pendanaan</font></span></strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Investasi di bidang energi terbarukan dan konservasi energi perlu terus ditingkatkan secara lebih merata dengan memberikan desempatan seluas-luasnya kepada kalangan swasta, koperasi BUMN, dan badan usa milik daerah (BUMD) Pemerintah Daerah perlu didorong agar dapat menciptakan iklim investasi energi terbarukan dan konservasi energi gunamenarik investor.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Kegiatan pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi memerlukan dana yang besar. Untuk itu, perlu diciptakan suatu mekanisme pendanaan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha di bidang energi terbarukan dan konservasi energi seperti dana bergulir, dana jaminan (loan guarantee), pinjaman lunak, dan mikrokredit.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Untuk mendorong investasi di bidang energi terbarukan dan konservasi energi, perlu adanya beberapa kebijakan, antara lain: penciptaan iklim investasi yang memberikan rangsangan dalam segi finansial, moneter, dan fiskal; pemberian insentif investasi berupa mekanisme sistem investasi yang kondusif dan suku bunga rendah; peningkatan sistem dan mekanisme kemitraan di antara pelaku usaha dalam penyediaan dan pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi.</font></span></li>
</ol>
<p><span></span><span><strong><font face="Times New Roman">b. Kebijakan Insentif</font></strong></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada saat ini, kegiatan di bidang energi terbarukan dan konservasi energi masih belum menarik. Untuk itu, agar kegiatannya dapat ditingkatkan, diperlukan adanya berbagai insentif secara adil dan konsisten. Insentif yang diperlukan, di antaranya, seperti berikut: pemberian insentif pajak berupa penangguhan, keringanan dan pembebasan pajak pertambahan nilai, serta pembebasan pajak bea masuk kepada perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan dan konservasi energi; penghargaan kepada pelaku usaha yang berprestasi dalam menerapkan prinsip konservasi energi dan pemanfaatan energi terbarukan; penghapusan pajak barang mewah terhadap peralatan energi terbarukan dan konservasi energi; memberikan dana pinjaman bebas bunga untuk bagian enjinering dari investasi pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi.</font></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Pemberian insentif fiskal dan non fiskal tertentu diatur melalui suatu peraturan pemerintah.</font></span></li>
</ol>
<p><span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">c. Kebijakan Harga Energi</font></span></strong></span></p>
<ol>
<li><strong><span></span></strong><span><font face="Times New Roman">Salah satu penghambat berkembangnya energi terbarukan dan konservasi energi secara optimal adalah adanya kebijakan subsidi harga energi yang selama ini diterapkan. Untuk itu, agar keekonomian energi terbarukan dapat bersaing dengan energi konvensional, perlu ditempuh kebijakan yang menyangkut harga energi, di antaranya melanjutkan penghapusan subsidi harga energi secara bertahap dan berencana.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></li>
</ol>
<p><span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">d. Kebijakan Standardisasi dan Sertifikasi</font></span></strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Standardisasi, sertifikasi dan akreditasi melalui benchmarking dengan lembaga/industri unggulan terus dikembangkan dan ditingkatkan agar dapat meningkatkan daya saing produk dan jasa Indonesia. Kebijakan penerapan standar dengan penandaan dan pelabelan untuk produk teknologi energi diterapkan dan disebarluaskan.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Tujuan pemberlakukan standar adalah untuk memberikan jaminan akan kualitas produk, baik produk energi maupun produk peralatan/sistem energi yang diproduksi di dalam negeri ataupun di luar negeri, yang berhubungan dengan energi terbarukan dan konservasi energi. Dengan terciptanya standardisasi nasional diharapkan dapat memberikan rasa aman kepada consumen, penghematan menyeluruh pada produsen, dan dapat menjadi landasan pemerintah dalam pembuatan peraturan.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Standar Nasional Indonesia (SNI) Energi terbarukan dan konservasi energi yang menyangkut kesehatan, keamanan, keselamatan dan fungís lingkungan hidup diberlakukan sebagai standar wajib. Permberlakuan standar wajib harus mempertimbangkan kesiapan produsen, kesiapan lembaga sertifikasi/laboratorium penguji, prosedur dan mekanisme.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Kegiatan standardisasi tidak dapat dipisahkan dari akreditasi dan sertifikasi. Kegiatan sertifikasi mempunyai fungsi yang penting, terutama untuk memberikan kemudahan dalam pasar global, jaminan kualitas dalam perdagangan produk dan jasa, dan sebagai alat proteksi bagi masuknya produk bermutu rendah atau tidak memenuhi standar.</font></span></li>
</ol>
<p></span></p>
<p><span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">e. Kebijakan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia</font></span></strong></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Kualitas sumber daya manusia ditingkatkan secara berkesinambungan untuk mengikuti perkembangan yang makin menuntut kecanggihan teknologi, efisiensi dan produktivitas yang tinggi serta kearifan di dalam menangani masalah energi terbarukan dan konservasi energi, terutama dalam hal proses penguasaan dan alih teknologi.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Peningkatan kualitas sumber daya manusia dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, baik di dalam maupun di luar negeri, yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan, penelitian dan pengembangan, dan industri yang terkait. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang energi terbarukan dan konservasi energi perlu ditingkatkan sehingga tenaga-tenaga tersebut mampu mengembangkan industri energi terbarukan dan konservasi energi dalam negeri yang tangguh. Selain itu, profesionalisme sumber daya manusia di bidang jasa dan teknologi energi yang mampu bersaing di pasaran internasional perlu ditingkatkan.</font></span></li>
</ol>
<p><span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">f. Kebijakan Sistem Informasi</font></span></strong></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Keberadaan dan fungsi pengelolaan informasi energi terbarukan dan konservasi energi secara berkesinambungan terus ditingkatkan dan diterapkan, terutama untuk menciptakan koordinasi yang lebih baik dalam pembangunan energi terbarukan dan konservasi energi, dan meningkatkan daya saing.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Data dan informasi perlu disusun dan dikelola secara terpadu. Untuk itu perlu diciptakan jaringan pengelolaan data energi terbarukan dan konservasi energi (green energy and data management network) yang mampu mengumpulkan, mencatat, dan menghimpun informasi yang berkaitan dengan energi terbarukan dan konservasi energi dan unsur yang terkait dengannya. Hubungan dan koordinasi antara pusat dengan daerah, satu daerah dengan daerah lainnya, diperlukan untuk mewujudkan sistem informasi yang terpadu</font></span></li>
</ol>
<p><span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">g. Kebijakan Penelitian dan Pengembangan</font></span></strong></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Penelitian dan pengembangan di bidang energi terbarukan dan konservasi energi diarahkan untuk meningkatkan kemampuan nasional di bidang penguasaan iptek dalam rangka pengembangan industri yang berkaitan dengan jasa dan teknologi energi terbarukan dan konservasi energi melalui kerja sama dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan.</font></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Pola pendekatan dilaksanakan secara serempak yang dimulai dengan memprioritaskan penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan: teknologi energi terbarukan; teknologi energi efisien; dan penggunaan produksi barang dan jasa dalam negeri (local content) melalui kerja sama dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan</font></span></li>
</ol>
<p><span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">h. Kebijakan Kelembagaan</font></span></strong></span></p>
<ol>
<li><span><strong><span></span></strong></span><span><font face="Times New Roman">Fungsi lembaga yang menangani energi terbarukan dan konservasi energi perlu diperkuat. Untuk itu, diperlukan beberapa kebijakan di antaranya: mengembangkan dan memperkuat jejaring energi terbarukan dan konservasi energi pada tingkat nasional, regional, dan internasional; menyebarluaskan informasi tentang energi terbarukan dan konservasi energi, antara lain melalui kampanye, pendidikan dan pelatihan, dan percontohan; meningkatkan pemahaman semua jajaran Pemerintah dalam hal sense of urgency dan bersinergi pada dan antar lembaga Pemerintah dalam penerapan peraturan mengenai energi terbarukan dan konservasi energi.</font></span><strong><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="font-size:11pt;"></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:11pt;">Sumber: Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral <span> </span></span><span style="font-size:11pt;">Jakarta, 22 Desember 2003</span><span style="font-size:11pt;"></span></font><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=38&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/14/kebijakan-pengembangan-energi-terbarukan-dan-konservasi-energi-energi-hijau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SUMBER ENERGI ALTERNATIF MENUJU KETAHANAN ENERGI NASIONAL</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/09/sumber-energi-alternatif-menuju-ketahanan-energi-nasional/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/09/sumber-energi-alternatif-menuju-ketahanan-energi-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2007 07:59:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/09/sumber-energi-alternatif-menuju-ketahanan-energi-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[Kebutuhan energi merupakan sesuatu yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia saat ini, Energi mempunyai peranan penting dalam kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan sesuai kesepakatan dunia dalam World Summit on Sustainable Development (WSSD). Pemakaian energi dunia untuk waktu mendatang seperti diperkirakan Energy Information Administration (EIA) hingga tahun 2025 masih didominasi oleh bahan bakar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=37&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Kebutuhan energi merupakan sesuatu yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia saat ini, Energi mempunyai peranan penting dalam kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan sesuai kesepakatan dunia dalam World Summit on Sustainable Development (WSSD).</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Pemakaian energi dunia untuk waktu mendatang seperti diperkirakan Energy Information Administration (EIA) hingga tahun 2025 masih didominasi oleh bahan bakar dari fosil: minyak, gas alam dan batubara, untuk energi terbarukan masih relatif sedikit. Sedangkan dari segi pemakaian, sumber energi minyak secara global didominasi untuk transportasi, dan ini sampai 2025 diperkirakan masih terus berlanjut meningkat, sedangkan untuk daerah komersial dan tempat tinggal dapat dikatakan tidak banyak perubahan.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Kebutuhan listrik dunia diproyeksikan akan meningkat dari 14.275 milyar watt ditahun 2002 melonjak menjadi 26.018 milyar watt ditahun 2025, dan untuk mendapatkan energi listrik tersebut sebagian besar adalah dari batubara yaitu hampir 40%, diikuti dengan gas yang semakin meningkat.<span id="more-37"></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Di Asia diproyeksikan kebutuhan energi akan meningkat dari 110 quadrilliun Btu (Qbtu) ditahun 2002 menjadi 221 QBtu di tahun 2025 atau meningkat dua kali lipat dalam jangka waktu 23 tahun. Dari peningkatan yang demikian tinggi tersebut, China merupakan negara yang peningkatannya sangat tinggi yaitu dari 43 Qbtu ditahun 2002 menjadi 109 Qbtu ditahun 2025.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Dengan kondisi kebutuhan energi yang demikian besar, beberapa Negara mencanangkan penghematan energi seperti di Jepang, Malaysia,Thailand dll. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Di Malaysia dicanangkan program SREP (Small Renewable Energy Power) dan dibentuk Special Committee on Renewable Energy (SCORE) untuk menjalankan program tersebut. Sedangkan Thailand membentuk EPPO (Energy Policy and Planning Office). Dalam kebijaksanaannya EPPO mengarah untuk menekan pemakaian energi dari fosil sampai 70 % dengan Strategic Plan Energy Conservation selama sepuluh tahun. Strategi tersebut diutamakan dalam meningkatkan efisiensi dan ekonomis pada sektor transportasi, industri dan rumah tinggal. Untuk menuju hal tersebut dilakukan pengembangan sumber daya manusia, dan meningkatkan kesadaran masyarakat dengan berbagai kampanye. Untuk arah energy alternative T</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">hailand membentuk DAEDE (Department of Alternative Energy Development and Efficiency). Saat ini Thailand sudah mempunyai energi terbarukan sekitar 17% dari seluruh keperluan energi, dan kemampuan domestic untuk hal tersebut mencapai lebih dari 53%, dan import sekitar 46%. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Penggunaan energi di Indonesia juga seperti yang terjadi di dunia secara umum yaitu meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan perekonomian maupun perkembangan teknologi. Pemakaian energi mix di Indonesia saat ini lebih dari 90% menggunakan energi yang berbasis fosil, yaitu minyak bumi 54,4%, gas 26,5% dan batubara 14,1%. Untuk energi dengan Panas bumi 1,4%, PLTA 3,4%, sedangkan energi baru dan terbarukan (EBT) lainnya 0,2%.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"> Sedangkan cadangan minyak bumi terbukti saat ini diperkirakan sebesar 9 milyar barel, dengan tingkat produksi rata-rata 0,5 milyar barrel per tahun, maka cadangan tersebut dapat habis dalam waktu sekitar 18 tahun. Cadangan yang diperkirakan untuk gas 170 TSCF (trilion standart cubic feed) sedangkan kapasitas produksi mencapai 8,35 BSCF (billion standart cubic feed) yang dibagi untuk ekspor 4,88 BSCF dan untuk domestik 3,47 BSCF. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Cadangan batubara di Indonesia diperkirakan ada 57 miliar ton dan merupakan cadangan yang sudah dieksplorasi sebesar 19,3 miliar ton, dengan kapasitas produksi sebesar 131,72 juta ton per tahun. Sehingga jika tidak ada penambahan eksplorasi, cadangan batubara tersebut akan dapat bertahan selama 147 tahun.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;font-family:Arial;">      Dari segi cadangan Indonesia masih mempunyai cukup besar,  tetapi permasalahan utama yang terjadi di Indonesia adalah kebijaksanaan yang belum dapat memberikan ketahanan energi secara nasional, dimana masih banyak yang belum mendapatkan pasokan energi seperti listrik, produksi minyak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga perlu import, harga minyak yang disubsidi memberatkan keuangan pemerintah, dan jika dilakukan penyesuaian dengan harga internasional terjadi gejolak dimasyarakat karena daya beli yang masih rendah dll.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">      </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Saat ini ketersediaan listrik di Indonesia baru mencapai 21,6 GW atau 108 watt per orang, hal itu hampir sama dengan di India yang hanya seper enamnya Malaysia(609 watt/orang) dan jauh lebih kecil dibandingkan dengan Jepang yang mencapai 1.874 watt/orang. Padahal potensi adanya energi listrik di Indonesia sangat besar, yaitu dari sumber energi non fosil seperti panas bumi setara 27 Giga watt (GW), tenaga air 75 GW, biomasa 49 GW, tenaga matahari 48 kWh/m2/hari, tenaga angin 9 GW, uranium 32 GW atau total ada lebih 230 GW dan dimanfaatkan untuk listrik baru 10%.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">      </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Ketersediaan energi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,467 toe per kapita, dibanding dengan Jepang yang mencapai 4,14 toe/kapita, tetapi dilain pihak terjadi pemborosan yang sangat besar, yaitu 470 toe perjuta US dolar, sedangkan Jepang hanya 92,3 toe perjuta US dolar.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Untuk mengatasi permasalahan di bidang energi, telah dibuat berbagai kebijaksanaan seperti Kebijakan umum bidang energi (KUBE) sejak tahun 1981 dan telah dilakukan perbaikan pada tahun 1987, 1991 dan 1998. Kemudian Kebijakan Energi Nasional (KEN) dibuat pada tahun 2003. Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Energi Hijau) yang dikeluarkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral 22 Desember 2003. </span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Kebijaksanaan yang diatas belum dapat menjawab permasalahan secara menyeluruh, sehingga untuk operasional kebijaksanaan tersebut kemudian dibuat Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025 yang mencanangkan: Pemakaian energi mix untuk minyak menjadi 26,2%, Gas bumi 30,6%, batubara 32,7%, PLTA 2,4%, Panas bumi 3,8% dan yang lainnya sebesar 4,4% merupakan energi:  biofuel, tenaga surya, tenaga angin. Fuelcell, biomasa, tenaga nuklir dll. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Blueprint tersebut belum diformalkan menjadi kebijaksanaan pemerintah, sehingga belum secara nasional mengacu. Untuk itu diusulkan segera dibuatnya undang undang energi sebagai payung utama dalam hal energi, kemudian penyesuaian undang-undang yang terkait dengan undang-undang energi, seperti undang-undang ketenaga-nukliran, kelistrikan, panas bumi, migas dll. Undang-undang tersebut perlu diikuti dengan instrumen-instrumen untuk memudahkan pelaksanaan baik dipusat maupun di daerah.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Juga perlu dilakukan perbaikan kebijaksanaan dalam harga, selain untuk menekan subsidi juga untuk menekan terjadinya penyelundupan BBM keluar negeri, pencampuran berbagai jenis minyak dll. Dalam hal ini koordinasi secara nasional diperlukan, terutama dengan penegak hukum baik Polisi maupun TNI serta perangkat hukum lainnya.  </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Kebijaksanaan didaerah yang saat ini kebanyakan menunggu kebijaksanaan dari pusat, dengan adanya undang-undang energi dan programnya yang jelas dapat menentukan arah pembangunan energi yang ada didaerahnya sesuai dengan potensi yang ada.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Instrumen kebijaksanaan dibidang fiscal yang berkaitan dengan energi sangat penting, seperti diperlukan adanya berbagai insentif secara adil dan konsisten. Insentif yang diperlukan, di antaranya, adalah: pemberian insentif pajak berupa penangguhan, keringanan dan pembebasan pajak pertambahan nilai, serta pembebasan pajak bea masuk kepada perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan dan konservasi energi; penghargaan kepada pelaku usaha yang berprestasi dalam menerapkan prinsip konservasi energi dan pemanfaatan energi terbarukan; penghapusan pajak barang mewah terhadap peralatan energi terbarukan dan konservasi energi; memberikan dana pinjaman bebas bunga untuk bagian enjinering dari investasi pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Penelitian dan pengembangan di bidang energi alternatif dan konservasi energi perlu diarahkan untuk meningkatkan kemampuan nasional di bidang penguasaan Iptek dalam rangka pengembangan industri yang berkaitan dengan jasa dan teknologi energi terbarukan dan konservasi energi melalui kerja sama dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan. Selain programnya juga perlu dianggarkan dengan baik, biaya untuk penelitian dan pengembangan yang diambil dari pengurangan subsidi, maupun anggaran khusus yang dapat mengurangi kerugian social ekonomi karena permasalahan pemborosan pemakaian energi. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Anggaran pemerintah untuk energi alternatif di usulkan 2,5% dari angaran subsidi, baik subsidi untuk minyak maupun subsidi untuk listrik dan dari tahun ketahun diberikan prioritas kenaikan untuk mempercepat penyelesaian permasalahan energi.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Instrumen kebijaksanaan pendidikan perlu ditujukan untuk membuka inisiatif masyarakat dalam mengimplementasikan energi alternatif dan konservasi energi. Selain itu diperlukan regulasi keteknikan untuk menjamin penyediaan dan pemanfaatan energi alternatif dan konservasi energi yang berkualitas tinggi, aman, andal, akrab lingkungan.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Juga pemberlakukan standar untuk memberikan jaminan akan kualitas produk, baik produk energi maupun produk peralatan/sistem energi yang diproduksi di dalam negeri ataupun di luar negeri, yang berhubungan dengan energi terbarukan dan konservasi energi. </span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Jika di Malaysia ada SCORE dan Thailand membentuk EPPO, di Indonesia selain organisasi di Departemen ESDM, telah dibentuk BP Migas. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Untuk mengelola khusus energi terbarukan dan konservasi energi, sebaiknya dibentuk badan energi terbarukan dan konservasi energi diluar departemen yang ada. </span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Hal yang perlu disadari adalah penyelesaian energi nasional tidak dapat diselesaikan dalam jangka pendek, tetapi mencakup kebijaksanaan jangka panjang yang sangat komprehensif. Sangat diperlukan suatu kebijaksanaan makro, jangka panjang secara holistik dan komprehensif yang dilakukan secara konsisten terus menerus.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">REKOMENDASI</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Cadangan energi di Indonesia masih besar, tetapi belum dapat memberikan ketahanan energi nasional, sedangkan pemakaian energi yang berbasis fosil mempunyai keterbatasan, sehingga perlu dilakukan penghematan dan efisiensi yang tinggi. Terutama untuk energi minyak bumi, selain cadangan yang terbatas kemampuan produksi dalam negeri dari tahun ketahun menurun dan tidak dapat memenuhi kuota dari OPEC. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Untuk itu diusulkan segera dibuatnya undang undang energi sebagai payung utama dalam hal energi, kemudian penyesuaian undang-undang yang terkait dengan undang-undang energi, seperti undang-undang ketenaga nukliran, kelistrikan, panas bumi, migas dll. Undang-undang tersebut perlu diikuti dengan instrumen-instrumen untuk memudahkan pelaksanaan baik dipusat maupun di daerah. Juga perlu ditetapkan program yang jelas, seperti yang tertera dalam <em>blueprint</em> energi yang perlu dilakukan sinkronisasi dengan kebijaksanaan perumahan, transportasi, industri maupun daerah komersiil. Hasil <em>blueprint</em> tersebut perlu diformalkan untuk menjadi acuan nasional, sehingga semua kebutuhan yang berkaitan dengan energi harus disesuaikan dengan <em>blueprint</em> tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Perlu adanya perbaikan kebijaksanaan dalam harga, selain untuk menekan subsidi juga untuk menekan terjadinya penyelundupan BBM keluar negeri, pencampuran berbagai jenis minyak dll. Dalam hal ini koordinasi secara nasional diperlukan, terutama dengan penegak hukum baik Polisi maupun TNI serta perangkat hukum lainnya.  Kebijaksanaan didaerah yang saat ini kebanyakan menunggu kebijaksanaan dari pusat, dengan adanya undang-undang energi dan programnya yang jelas dapat menentukan arah pembangunan energi yang ada didaerahnya sesuai dengan potensi yang ada.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Instrumen kebijaksanaan dibidang fiskal yang berkaitan dengan energi sangat penting, seperti diperlukan adanya berbagai insentif secara adil dan konsisten. Insentif yang diperlukan,  diantaranya, adalah: pemberian insentif pajak berupa penangguhan, keringanan dan pembebasan pajak pertambahan nilai, serta pembebasan pajak bea masuk kepada perusahaan yang bergerak dibidang energi terbarukan dan konservasi energi; penghargaan kepada pelaku usaha yang berprestasi dalam menerapkan prinsip konservasi energi dan pemanfaatan energi terbarukan; penghapusan pajak barang mewah terhadap peralatan energi terbarukan dan konservasi energi; memberikan dana pinjaman bebas bunga untuk bagian <em>engineering</em> dari investasi pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Penelitian dan pengembangan dibidang energi alternatif dan konservasi energi perlu diarahkan untuk meningkatkan kemampuan nasional di bidang penguasaan Iptek dalam rangka pengembangan industri yang berkaitan dengan jasa dan teknologi energi terbarukan dan konservasi energi melalui kerja sama dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Selain programnya juga perlu dianggarkan dengan baik beaya untuk penelitian dan pengembangan yang diambil dari pengurangan subsidi, maupun anggaran khusus yang dapat mengurangi kerugian social ekonomi karena permasalahan pemborosan pemakaian energi. Anggaran pemerintah untuk energi alternatif di usulkan 2,5% dari angaran subsidi, baik subsidi untuk minyak maupun subsidi untuk listrik dan dari tahun ketahun diberikan prioritas kenaikan untuk mempercepat penyelesaian permasalahan energi.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Instrumen kebijaksanaan pendidikan perlu ditujukan untuk membuka inisiatif masyarakat dalam mengimplementasikan energi alternatif dan konservasi energi. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Selain itu diperlukan regulasi keteknikan untuk menjamin penyediaan dan pemanfaatan energi alternatif dan konservasi energi yang berkualitas tinggi, aman, andal, akrab lingkungan.</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Juga pemberlakukan standar untuk memberikan jaminan akan kualitas produk, baik produk energi maupun produk peralatan/sistem energi yang diproduksi di dalam negeri ataupun di luar negeri, yang berhubungan dengan energi terbarukan dan konservasi energi. </span><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Jika di Malaysia ada SCORE dan Thailand membentuk EPPO, di Indonesia selain organisasi di Departemen ESDM, telah dibentuk BP Migas. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">Untuk mengelola khusus energi terbarukan dan konservasi energi, sebaiknya dibentuk badan energi terbarukan dan konservasi energi diluar departemen yang ada. <span style="font-size:10pt;color:#333333;line-height:120%;font-family:Arial;">(Kedeputian Bidang Kajian Lemhannas RI, 2006)</span></span><span style="font-size:10pt;color:#999999;font-family:Arial;"><a href="http://www.lemhannas.go.id/">http://www.lemhannas.go.id</a>,<span>  </span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:#999999;font-family:Arial;">Update Terakhir ( Wednesday, 30 August 2006 )</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=37&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/09/sumber-energi-alternatif-menuju-ketahanan-energi-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Sudah Saatnya Kembangkan Energi Surya</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pemerintah-sudah-saatnya-kembangkan-energi-surya/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pemerintah-sudah-saatnya-kembangkan-energi-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pemerintah-sudah-saatnya-kembangkan-energi-surya/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah saatnya pemerintah menyediakan anggaran yang cukup untuk pengembangan dan pemanfaatan sel surya, karena Indonesia merupakan negeri katulistiwa yang energi mataharinya melimpah. &#8220;Energi yang tersimpan dalam cahaya matahari, tak memerlukan proses panjang untuk dapat dimanfaatkan dibanding dengan sumber energi yang tersedia saat ini minyak bumi,&#8221; kata Dr Masno Ginting yang dikukuhkan sebagai Ahli Peneliti Utama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=36&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sudah saatnya pemerintah menyediakan anggaran yang cukup untuk pengembangan dan pemanfaatan sel surya, karena Indonesia merupakan negeri katulistiwa yang energi mataharinya melimpah. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Energi yang tersimpan dalam cahaya matahari, tak memerlukan proses panjang untuk dapat dimanfaatkan dibanding dengan sumber energi yang tersedia saat ini minyak bumi,&#8221; kata Dr Masno Ginting yang dikukuhkan sebagai Ahli Peneliti Utama oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Jakarta, Senin. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Selain itu, ujarnya, energi matahari tidak akan pernah punah selama matahari bersinar, hal ini berbeda dengan energi BBM yang hanya dalam beberapa puluh tahun lagi akan habis. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Energi matahari, lanjutnya, juga luar biasa besarnya sekitar 1.300 Watt per m2 tetapi yang sampai ke permukaan bumi pada siang hari dengan cuaca cerah rata-rata 1.000 Watt per m<sup>2</sup>. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Dengan sel surya juga tidak perlu dikhawatirkan perubahan harga bahan bakar minyak yang tergantung keadaan dunia internasional dan memikirkan subsidi BBM serta perubahan anggaran yang disebabkannya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Alokasi anggaran diperlukan untuk melengkapi peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi mulai dari bahan dasar yaitu mengubah kwarsa menjadi bahanpolycrystal, single crystal hingga menjadi wafer yang siap untuk memproduksi sel surya,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">, ujarnya kaya akan bahan baku dan tak perlu mengimpornya seperti di negara-negara lain yang tak memiliki bahan bakunya. Ia mengakui, biaya konversi energi matahari menjadi listrik dengan jumlah kalori yang dihasilkan sumber energi lain seperti air, angin atau BBM masih belum berimbang. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sampai pada 2000 dilaporkan untuk pengadaan modul sel surya dengan daya sampai ratusan kilo watt harga sistem per watt energi yang dihasilkan adalah sekitar 4,5 dolar AS, bahkan meski pada 2005 harga modul sistem pembangkit energi dengan sel surya dapat diturunkan menjadi 1 dolar AS per Watt. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Meskipun mahal dibanding sumber energi lainnya, menurut dia, sel surya memiliki kelebihan yakni umur hidup yang sangat lama, mencapai sekitar 10 tahun. </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.republika.co.id/" target="_top"><span style="text-decoration:none;">Republika (29 Nopember 2004)</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=36&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pemerintah-sudah-saatnya-kembangkan-energi-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Akan Bangun 15.000 PLTS</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pemerintah-akan-bangun-15000-plts/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pemerintah-akan-bangun-15000-plts/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:38:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pemerintah-akan-bangun-15000-plts/</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah akan membangun sebanyak 15.000 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 200 unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di Indonesia bagian timur pada 2006. Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yogo Pratomo di Jakarta, pekan lalu, mengatakan, pembangunan pembangkit berdaya kecil tersebut merupakan upaya pemerintah memenuhi kebutuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=35&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Pemerintah akan membangun sebanyak 15.000 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 200 unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di Indonesia bagian timur pada 2006. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yogo Pratomo di Jakarta, pekan lalu, mengatakan, pembangunan pembangkit berdaya kecil tersebut merupakan upaya pemerintah memenuhi kebutuhan energi listrik di Indonesia bagian timur yang kini tertinggal dibandingkan bagian barat. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Saat ini terjadi penumpukan daya listrik di Pulau Jawa ketimbang di luar Jawa. Karenanya, pemerintah akan memperbanyak pembangunan PLTS dan PLTM di Indonesia bagian timur,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Menurut dia, pemerintah memang telah membangun puluhan ribu unit PLTS di seluruh Indonesia. Namun, mulai 2006, pembangkit jenis itu akan diperbanyak dan difokuskan di wilayah Indonesia timur. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Setiap unit PLTS berdaya sekitar 100 watt yang diharapkan mencukupi kebutuhan listrik di wilayah terpencil dan pelosok-pelosok wilayah timur Indonesia,&#8221; ujarnya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Yogo mengatakan, investasi awal dalam penyediaan PLTS memang cukup besar yakni antara Rp5-6 juta per unit. Namun, setelah PLTS terpasang, pembangkit tersebut tidak memerlukan biaya pembelian energi lagi untuk menghasilkan listrik. Pasalnya, energi telah terpenuhi secara gratis dari matahari yang sepanjang tahun ada di wilayah Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sementara itu, mengenai PLTM, Yogo mengatakan, pada 2006, pemerintah menargetkan pembangunan 200 unit PLTM dengan kapasitas antara 50-500 kilowatt dengan kebutuhan investasi per kilowatt sekitar Rp20 juta. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Kalau pemerintah merencanakan pembangunan 200 unit pembangkit dengan kapasitas rata-rata 100 kilowatt, kebutuhan dana mencapai Rp400 miliar. &#8220;Dana itu diperoleh dari APBN dan PT PLN (Persero),&#8221; ujarnya. </span><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Jakarta</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">, Sabtu, 5 Nov 2005</span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0511/05/232342.htm" target="_top"><span style="text-decoration:none;">Kompas.co.id</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=35&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pemerintah-akan-bangun-15000-plts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pakai Energi Terbarukan : Target Lima Persen Energi Konvensional</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pakai-energi-terbarukan-target-lima-persen-energi-konvensional/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pakai-energi-terbarukan-target-lima-persen-energi-konvensional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pakai-energi-terbarukan-target-lima-persen-energi-konvensional/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan, draf Rancangan Undang-Undang Energi memuat mekanisme pemberian insentif bagi pengembangan energi terbarukan. Kini, draf RUU energi sudah di tangan Dewan Perwakilan Rakyat. Undang-undang ini akan menjadi payung pengembangan energi terbarukan yang sangat potensial, kata Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) Yogo Pratomo di sela-sela Dialog Publik Meningkatkan Energi Terbarukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=34&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan, draf Rancangan Undang-Undang Energi memuat mekanisme pemberian insentif bagi pengembangan energi terbarukan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Kini, draf RUU energi sudah di tangan Dewan Perwakilan Rakyat. Undang-undang ini akan menjadi payung pengembangan energi terbarukan yang sangat potensial, kata Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) Yogo Pratomo di sela-sela Dialog Publik Meningkatkan Energi Terbarukan dalam Energy Mix Nasional yang diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Jakarta, Kamis (25/8). </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Meski demikian, pemerintah baru berani mematok sumbangannya lima persen dari konsumsi energi nasional pada tahun 2020. Lima persen itu setara dengan 50.000 megawatt (MW). </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Angka lima persen tersebut hanya untuk pembangkit listrik, tidak termasuk energi di bidang transportasi. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Menurut Yogo, keberadaan UU Energi salah satunya dimaksudkan untuk optimalisasi energi terbarukan. Tanpa UU, pengembangannya tidak akan optimal. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Mengenai bentuk dan persentase insentif bagi pengembang energi terbarukan, akan diperjelas dalam peraturan turunan UU Energi. Bisa berupa pengurangan pajak atau bea masuk, kata dia. </span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Mengherankan</span></strong><span id="more-34"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> Di tempat yang sama, pengamat perminyakan Dr Kurtubi mengaku heran dengan langkah pemerintah yang tidak segera mengembangkan energi terbarukan seperti biodiesel dan etanol. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Padahal, sinyal-sinyal krisis bahan bakar minyak (BBM) telah terlihat sejak beberapa tahun lalu. Di antaranya ditandai dengan berkurangnya produksi minyak dan gas tanpa bisa dicegah, jumlah kilang dalam 12 tahun terakhir yang tidak bertambah, serta ketiadaan aktivitas eksplorasi sumber baru. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Di sisi lain, potensi energi terbarukan sangat melimpah di Indonesia. Selain itu, ramah lingkungan, hemat devisa, dan terbuka lebar menciptakan lapangan kerja. Mau apa lagi, kok tidak juga dikembangkan, katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Ahli Peneliti Utama dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Siddik Boedoyo merinci perhitungan potensi energi terbarukan. Potensi tenaga air 75.000 MW dan baru digunakan 4.200 MW, sedangkan panas bumi 2.300 MW dan digunakan 800 MW. Belum termasuk berbagai jenis biodiesel. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Padahal, cadangan minyak bumi 5 miliar barrel akan habis dalam sepuluh tahun. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">(GSA) </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.kompas.co.id/" target="_top"><span style="text-decoration:none;">Kompas (26 Agustus 200</span></a>5)</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=34&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/pakai-energi-terbarukan-target-lima-persen-energi-konvensional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsumen Pro Energi Alternatif Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/konsumen-pro-energi-alternatif-ramah-lingkungan/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/konsumen-pro-energi-alternatif-ramah-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/konsumen-pro-energi-alternatif-ramah-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[Indah Suksmaningsih (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia-YLKI) mengungkapkan, ketika dilakukan survey mengenai konsumsi energi di DKI tahun 2002, diperoleh hasil : 12,9 persen responden ternyata mengetahui bahwa sumber energi tidak terbarukan terbatas jumlahnya dan sekitar 50,75 persen responden mengetahui produk yang menggunakan energi alternatif (dengan contoh pemanas air dari energi matahari). Artinya, isu energi alternatif sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=33&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Indah Suksmaningsih (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia-YLKI) mengungkapkan, ketika dilakukan survey mengenai konsumsi energi di DKI tahun 2002, diperoleh hasil : 12,9 persen responden ternyata mengetahui bahwa sumber energi tidak terbarukan terbatas jumlahnya dan sekitar 50,75 persen responden mengetahui produk yang menggunakan energi alternatif (dengan contoh pemanas air dari energi matahari). Artinya, isu energi alternatif sudah bukan barang aneh atau hal yang asing bagi sebagian besar konsumen DKI. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Kesediaan Konsumen </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Dalam seminar sehari bertajuk &#8220;Prospek Energi Alternatif Ramah Lingkungan&#8221;, pada 17 Juni 2003 lalu di BPPT, Indah juga mengungkap dukungan konsumen terhadap penghematan energi. Mengacu hasil survey, kata Indah, 87,1 persen responden bersedia membayar lebih mahal untuk produk yang lebih hemat energi dan ada 64,2 persen responden yang menyatakan bahwa program pemerintah yang paling baik untuk menghemat energi adalah dengan pengembangan energi alternatif.</span><span id="more-33"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Dengan demikian, menurut Indah, energi alternatif yang saat ini sedang diupayakan secara serius oleh pihak pemerintah, cukup prospektif bagi konsumen. Apa alasannya &#8220;. Bagi Indah, energi alternatif sangat prospektif bagi konsumen karena beberapa sebab, yaitu : </span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">terdapat ancaman      kontinuitas energi listrik dari PLN; </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">fakta bahwa pada tahun 2003      PERTAMINA telah menjadi net-importer untuk bahan bakar minyak (BBM),      sementara itu, ketersediaan BBM di Indonesia tinggal 10-20 tahun lagi dan      gas bumi hanya untuk 30 tahun lagi; </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">fakta bahwa beban biaya      kesehatan, lingkungan dan sosial akibat energi yang mencemari lingkungan      sangat tinggi; </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">fakta bahwa terdapat banyak      penelitian di perguruan tinggi yang menunjukkan tingkat feasibility energi      alternatif (salah satunya adalah yang dilakukan oleh Pusat Energi      Alternatif UGM yang menunjukkan penggunaan energi alternatif matahari      dapat dilakukan dengan skala investasi mulai dari 5 juta rupiah). </span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Prasyarat dari konsumen </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Meski demikian, Indah mengajukan 5 syarat penting yang harus dipenuhi untuk pemanfaatan energi alternatif : </span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">technical feasibility</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> : energi alternatif harus      aman bagi konsumen (penggunanya), secara teknsi pemanfaatan energi      tersebut harus dapat dilakukan oleh masyarakat luas, harus ada      standarisasi dan sertifikasi segala hal yang menyangkut pemanfaatan energi      tersebut; </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">economic and financial      possibilities</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">      : berapa investasinya ? berapa biaya operasional-nya ?, analisis <em>benefit      and cost ratio</em> ?, kontinyuitas persediaan dan keberlanjutannya ?; </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">political viability</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> : dalam kondisi sekarang      apakah mungkin diaplikasikan ?, regulasi ?, pelibatan masyarakat dalam      mekanisme pengambilan keputusan ?, siapa yang boleh mengadakan dan      memanfaatkan energi tersebut ?; </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">administrative      operatibility</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">      : bagaimana perijinan dan pengoperasian energi tersebut ?, apakah secara      administrasi mekanisme/aturan pemanfaatn energi tersebut dapat diterapkan      ?, siapa yang mengawasi dan bagaimana mekanisme kontrol masyarakat ?; </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">social acceptability</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> : siapa saja dan kelompok      mana saja yang dapat dan diberi ijin memanfaatkan energi tersebut ?,      apakah dapat diakses oleh masyarakat umum ?, apakah tidak menimbulkan      damapak dan social cost yang lebih besar ?. </span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Optimalisasi keberadaan konsumen </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Konsumen mulai sekarang harus mempersiapkan dirinya untuk lebih aktif dalam memperhatikan permasalahan pelayanan publik. Terkait dengan energi alternatif, Indah menegaskan konsumen harus memainkan 3 peran, yakni sebagai informan, sebagai evaluator dan sebagai penentu. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Nah, ketiga peran tersebut dapat diakselerasi tingkat keoptimalannya dengan cara konsumen langsung bisa merasakan keuntungannya, misal pada fungsi kesehatan dan kenyamanan, serta adanya penghematan pengeluaran rumah tangga atau industri. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.beritaiptek.com/" target="_top"><span style="text-decoration:none;">Berita IPTEK (25 Juni 2003)</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=33&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/konsumen-pro-energi-alternatif-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Hybrid Tenaga Surya</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/aplikasi-hybrid-tenaga-surya/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/aplikasi-hybrid-tenaga-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:36:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/aplikasi-hybrid-tenaga-surya/</guid>
		<description><![CDATA[Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya berbasis hybrid power system Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), tengah dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknoloh (BPPT) dan Pemerintah Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. PLTS yang berada di pulau Panelo, Kecamatan Kwandang, Gorontalo itu berbasis hybrid power system. Menurut Adjat Sudrajat, peneliti pada Pusat Pengkajian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=32&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Helvetica;color:#72642d;"></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya berbasis hybrid power system Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), tengah dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknoloh (BPPT) dan Pemerintah Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. PLTS yang berada di pulau Panelo, Kecamatan Kwandang, Gorontalo itu berbasis hybrid power system. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Menurut Adjat Sudrajat, peneliti pada Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Konvensi dan Konservasi Energi BPPT, hybrid power system adalah suatu sistem pembangkit listrik dengabn menggunakan berbagai sumber energi. Dalam konteks remote area power suply systems, hybrid power, menurut Adjat, adalah suatu sistem pembangkit listrik yang menggunakan diesel generator, baterai, sumber energi terbarukan (renewable energy), unit pengkondisian daya berikut peralatan kontrol yang terintegrasi. &#8220;Sehingga mampu menghasilkan daya listrik secara efisien pada berbagai kondisi pembebanan,&#8221; kata Adjat. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">PLTS Panelo, tak urung, menjadi jawaban atas kritik yang muncul selama ini mengenai minimnya pemanfaatan tenaga surya di Indonesia. Dibanding negara lain seperti Jepang, Korea, Jerman, atau China, Indonesia dinilai tak optimal memanfaatkan tenaga surya. Kalaupun ada, tenaga surya hanya dimanfaatkan di daerah terpencil seperti di pengunungan atau pulau yang sulit dijangkau jaringan transmisi listrik. Tenaga yang dihasilkanpun kapasitas dayanya sangat kecil. Selain kapasitas daya kecil, pemanfaatnya juga terbatas. Antara lain penerangan rumah tangga dengan kekuatannya 15 watt.</span><span id="more-32"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> PLTS Panelo akan melangkah lebih jauh lagi. Proyek ini bakal menjangkau paling tidak 400 kepala keluarga. Masing-masing keluarga akan mendapat jatah minimal 450 watt selama 24 jam penuh. Proyek yang mendekati penyelesaian ini menelan dana hampir Rp 7 miliar. &#8220;Sebanyak 70 persen merupakan dana BPPT, sisanya menjadi tanggungan Pemerintah Kabupaten Gorontalo,&#8221; kata Adjat lebih jauh. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">BPPT telah lama mengembangkan teknologi surya untuk berbagai pemanfaatan. Sejumlah proyek yang akan dikomersialkan, antara lain solar home system, pemanfaatan energi surya untuk sistem komunikasi radio, sistem refrigator penyimpan vaksin, sistem pompa air untuk irigasi, sistem TV repeater. Juga tengah dikembangkan tenaga surya untuk sistem hybrid PV-diesel dan sistem PV grid connected. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Adjat menambahkan teknologi yang dikembangkan di Pulau Panelo berbeda dengan teknologi tenaga surya yang telah dikembangkan di sejumlah daerah, seperti Sipirok, Sumatera Utara; Pelaw, Maluku; Kepulauan Seribu; atau di daerah pegunungan terpencil Jawa Barat seperti Tasikmalaya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sistem sebelumnya hanya mendayagunakan sumber energi tenaga surya saja tanpa ada energi lain yang membantu. &#8220;Dengan menggunakan teknologi surya saja tentunya kemampuannya terbatas. Selain daya listriknya kurang, jangka pemakaian pun hanya setengah hari,&#8221; ujarnya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Untuk PLTS Panelo yang menggunakan model hybrid power system, selain menghemat biaya, akan menghasilkan kemampuan daya yang tinggi serta jangka pemakaian yang relatif lebih lama. Dengan ketersediaan tenaga listrik yang memadai penduduk bisa memanfaatkan tidak hanya untuk penerangan saja, namun juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, sebagaimana pemanfaatan listrik nonPLTS. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Secara sederhana hybrid power system, menggabungkan energi tenaga surya, mesin diesel yang memerlukan bahan bakar, dan baterai yang berfungsi untuk penyimpanan energi. Ketiganya disambungkan, sehingga menjadi energi listrik yang bisa disalurkan ke rumah-rumah. </span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Boros</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Dari sisi ekonomi, pemanfaatan tenaga surya secara tunggal, biayanya amat mahal. Untuk bisa menghasilkan tenaga listrik dengan kekuatan 220 volt, diperlukan lempengan silikon&#8211;yang berfungsi sebagai sel surya&#8211;, yang jumlahnya ratusan. Untuk satu lempengan silikon sendiri diperlukan puluhan Polycrystral silicon yang berukuran 10X1) inchi. Satu keping harga di pasar sekitar 2 dolar AS per keping. </span></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Hybrid power system</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">, menggunakan model fotovoltaik. Dalam hal ini, energi listrik dihasilkan oleh lempengan-lempengan silikon. Masing-masing lempengan, terdiri dari puluhan hingga ratusan polycrystal silicon, bergantung kebutuhan. Untuk membuat lempengan silikon, polycrystal silicon tersebut disusun dalam sebuah modul. Untuk satu keping polycrystal silicon memiliki kemampuan, 0,5 watt. Satu lempengan memiliki kemampuan menghasilkan arus listrik hingga 12 Volt DC yang setara dengan 50 watt. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Metode fotovoltaik merupakan metode mengkonversi energi matahari menjadi energi listrik dengan memanfaatkan lempengan silikon. Lempengan silikon yang terkena energi matahari, menghasilkan ion positif. Sedang lapisan kedua (lapisan dibaliknya) menghasilkan ion negatif. Bila kedua ion tersebut digabungkan, menghasilkan energi listrik. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Pada proyek PLTS Panelo, tentu saja dimanfaatkan ratusan lempengan silikon. Daya yang dihasilkan untuk proyek ini mencapai 22 kilo watt pick (Kwp). Daya yang dihasilkan oleh sistem fotovoltaik, memang tidak bisa dimanfaatkan 24 jam penuh, karena ketergantungan pada energi matahari. Energi matahari yang bisa dimanfaatkan sekitar 12 jam sehari. Agar bisa beroperasi sepanjang waktu dimanfaatkan diesel dengan kekuatan 100 KVA (Kilo Volt Ampere). Namun pengoperasian diesel tidak berlangsung selama 12 jam. &#8220;Hanya sekitar enam jam saja untuk menghemat bahan bakar,&#8221; kata Adjat. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Energi surya dimanfaatkan dari pukul 06.00 waktu setempat hingga sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Selanjutnya digunakan diesel untuk enam jam berikutnya. Untuk menutup kekurangan enam jam&#8211;agar bisa beroperasi penuh 24 jam&#8211;, dimanfaatkan sebuah baterai berkekuatan 240 Volt DC. Baterai ini digunakan pada saat sistem fotovoltaik dan diesel tidak difungsikan. &#8220;Dengan merangkai tiga komponen tersebut listrik bisa hidup selama 24 jam penuh,&#8221; tegasnya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Baterai tadi, ternyata menggunakan sistem charge. Oleh karena itu, pada siang harri listrik yang dihasilkan oleh fotovoltaik, sekaligus juga dimanfaatkan untuk mencharge baterai tersebut. Perpaduan tiga sumber energi yang berbeda tadi dimanfaatkan perangkat inverter (static power park). Perangkat ini berfungsi untuk mengubah aliran listrik DC menjadi AC secara bolak-balik. Sedangkan distribusi sumber daya listrik menggunakan sistem manajemen energi unit. &#8220;Proyek ini tetap membutuhkan dukungan manusia untuk mengatur sistem,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">PLTS Panelo disebut Adjat masih dalam tahap ujicoba, belum sampai pada tahap komersial, seperti halnya aplikasi tenaga surya yang telah dikembangkan BPPT selama ini. Walau demikian, kata Adjat, pemakai listrik akan dipungut biaya. Yang menarik, mekanisme pembayaran akan menggunakan sistem prepaid sebagaimana diterapkan pada telepon seluler. &#8220;Masyarakat yang akan menggunakan listrik tinggal membeli smart key yang harganya Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu,&#8221; kata Adjat. Untuk mengaktifkan listrik di rumah, tinggal menggesekan pada meteran listrik. &#8220;Prinsip dasarnya seperti mengisi pulsa isi ulang pada telepon seluler.&#8221; </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.republika.co.id/" target="_top"><span style="text-decoration:none;">Republika (12 September 2004)</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=32&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/aplikasi-hybrid-tenaga-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Minto, Merancang Energi Surya dari Buku SD</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/minto-merancang-energi-surya-dari-buku-sd/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/minto-merancang-energi-surya-dari-buku-sd/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/minto-merancang-energi-surya-dari-buku-sd/</guid>
		<description><![CDATA[MESKI dikenal sebagai penemu dan perancang tenaga surya, Minto (52) &#8220;hanyalah&#8221; guru kelas VI Sekolah Dasar Prambon 1 Madiun, Jawa Timur. Tahun 1990 ia melahirkan karya inovasi pertamanya tentang energi alternatif terbarukan yang kekal sepanjang masa berupa kompor bertenaga surya. KOMPOR berbiaya Rp 75.000 dan terbuat dari cermin datar yang biasa dipasang di lemari itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=31&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">MESKI dikenal sebagai penemu dan perancang tenaga surya, Minto (52) &#8220;hanyalah&#8221; guru kelas VI Sekolah Dasar Prambon 1 Madiun, Jawa Timur. Tahun 1990 ia melahirkan karya inovasi pertamanya tentang energi alternatif terbarukan yang kekal sepanjang masa berupa kompor bertenaga surya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">KOMPOR berbiaya Rp 75.000 dan terbuat dari cermin datar yang biasa dipasang di lemari itu kemudian bisa difungsikan sebagai parabola setelah ditambahkan receiver. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Cermin itu ia sambung hingga berbentuk lingkaran dengan diameter dua meter. Bentuknya yang mirip cermin cekung jika diarahkan ke matahari dapat membentuk fokus yang menghasilkan energi panas sampai 600 derajat Celsius. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Panci aluminium tanpa air ditaruh di fokus akan meleleh. Kompor dengan diameter 190 sentimeter ini bisa mendidihkan satu liter air hanya dalam lima sampai enam menit,&#8221; ujar pria kelahiran Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Madiun, ini. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Minto menelurkan ide-idenya berdasarkan </span><span id="more-31"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">buku Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SD. Hasilnya antara lain kompor surya yang menghasilkan uap panas bertekanan rendah untuk memasak di dalam rumah. Cita-citanya yang sederhana, yakni menjadi menjadi orang berguna bagi masyarakat, mendorong penerima penghargaan Direktur Energi Terbarukan tahun 1992 ini terus berkarya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Tahun 1992 lahir ciptaannya, pemanas air tenaga surya. Selanjutnya, penerima penghargaan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2002 ini membuat pengering serbaguna bertenaga surya. Tahun 2003 ia membuat penyulingan air bertenaga surya yang menghasilkan air suling dengan kadar oksigen tinggi, yang dipercaya bagus untuk kesehatan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Atas penemuannya itu, putra ketiga dari empat bersaudara anak pasangan Kartokayat dan Tukimah ini diusulkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Riset dan Teknologi untuk mendapat penghargaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ini atas jasa Minto memanfaatkan energi surya di bidang kesehatan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sekarang ia mendapat pesanan membuat percontohan rumah tenaga surya dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Energi dan Ketenagalistrikan Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Riset dan Teknologi. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Proyek yang didanai Rp 90 juta oleh pemerintah itu kini sudah rampung hampir 40 persen. Selain difungsikan sebagai hunian, rumah yang tersusun dari bahan pengantar panas itu memiliki banyak keuntungan. &#8220;Bisa untuk memasak, sebagai pengering, juga sebagai tempat penyulingan air yang semuanya bertenaga surya,&#8221; papar suami Sutjiati ini. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Meski bertenaga surya, pengering dan penyuling air buatannya bisa beroperasi sepanjang musim, termasuk saat musim penghujan. Hebatnya, dalam keadaan mendung seharian pun kemampuannya bisa 50 atau 30 persen. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Minto berkemeja batik dipadu celana hitam ketika mempresentasikan salah satu karyanya dalam acara seminar &#8220;Penghematan Energi dan Pemanfaatan Energi Alternatif yang Terbarukan di Era Energi Mahal&#8221; yang diadakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Rabu (23/2). </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Tanpa merasa canggung, lulusan Sekolah Pendidikan Guru ini berbicara tentang teknologi terbarukan di depan mahasiswa, dosen, peneliti, bahkan Manager Bidang Perencanaan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Hampir setiap minggu ia diminta menjadi pembicara terkait dengan bidang teknologi. Namanya terkenal sampai ke kancah nasional, bahkan internasional. Rumahnya pun tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari ada saja mahasiswa berbagai perguruan tinggi yang datang menimba ilmu. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sukses yang diraih bapak dua putra ini tentu tidak jatuh dari langit. Perjuangan panjang dan berliku telah dilalui pria yang menjadi guru sejak tahun 1975. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Ayah Bambang Sujatmiko dan Ervin Puspita Sari ini mengaku ide pembuatan teknologi tenaga surya muncul saat sedang mencari kayu bakar di hutan. Sebagai pemuda desa yang setiap hari harus mencari kayu bakar, pegawai negeri yang mendapat kenaikan pangkat istimewa dari III/c menjadi III/d ini suatu hari bingung karena kayu di hutan semakin habis. Di sisi lain, bahan bakar yang dibutuhkan terus bertambah seiring dengan pertambahan penduduk. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Beristirahat di pinggir sawah, Minto memandang ke arah sinar matahari yang memancar ke bumi. Pria yang menamatkan SMP tahun 1969 di Uteran, Madiun, ini terilhami untuk membuat berbagai formulasi supaya sinar matahari yang memancarkan panas itu bisa dimanfaatkan manusia. Ketika itu, yang ada dalam pikirannya sederhana, bagaimana bisa memasak dengan matahari yang juga menghasilkan panas sehingga ia tidak perlu mencari kayu bakar lagi. </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.kompas.co.id/" target="_top">Kompas (31 Maret 2005)</a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=31&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/minto-merancang-energi-surya-dari-buku-sd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penemu Kompor Surya Diusulkan Terima Penghargaan WHO</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/penemu-kompor-surya-diusulkan-terima-penghargaan-who/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/penemu-kompor-surya-diusulkan-terima-penghargaan-who/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:34:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/penemu-kompor-surya-diusulkan-terima-penghargaan-who/</guid>
		<description><![CDATA[Guru SD Negeri Prambon I Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minto (52), yang menemukan kompor tenaga surya diusulkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menerima penghargaan WHO (organisasi kesehatan dunia). &#8220;Pak Minto memang kami usulkan menerima penghargaan WHO di bidang kesehatan, karena alat penyuling air tenaga surya yang dirancang pada 2003 telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=30&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Guru SD Negeri Prambon I Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minto (52), yang menemukan kompor tenaga surya diusulkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menerima penghargaan WHO (organisasi kesehatan dunia). </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Pak Minto memang kami usulkan menerima penghargaan WHO di bidang kesehatan, karena alat penyuling air tenaga surya yang dirancang pada 2003 telah menghasilkan air yang menyehatkan,&#8221; kata peneliti dan pembimbing Minto dari ITS, Ir Syariffuddin Mahmudsyah MSc di Surabaya, Rabu (23/2). </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Kepala Pusat Energi Rekayasa Industri dan Ilmu Dasar LPPM ITS Surabaya mengemukakan hal itu seusai berbicara dalam diskusi publik &#8220;Penghematan Energi dan Pemanfaatan Energi Alternatif&#8221; yang juga mengundang Minto. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Menurut Minto yang hingga kini tetap menjadi guru SD itu, penemuan kompor surya yang ditemukan pada 1991 telah dikembangkan menjadi alat pengering tenaga surya (1998), alat pemanas air tenaga surya (2002), alat penyuling air tenaga surya (2003), dan rumah surya (2004).</span><span id="more-30"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> &#8220;Untuk tahun 2005, saya akan merancang alat pendidih air memakai energi surya untuk masak dan menghasilkan energi uap bagi PLTU,&#8221; kata alumnus SPG Sore Madiun pada 1973-1975 itu. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Ayah dua orang anak yang seorang di antaranya kuliah di Universitas Merdeka (Unmer) Madiun itu mengatakan semua alat yang dirancang diilhami buku pelajaran IPA kelas 5 SD tentang radiasi, konveksi, dan konduksi yang intinya tentang proses pemindahan panas secara fokus. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Dari apa yang saya baca ternyata cermin suryakanta yang diarahkan ke matahari dapat membakar kertas, karena itu saya berpikir bahwa jika diperbesar bentuknya tentu akan menghasilkan panas yang tinggi,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Ia mengatakan pikiran itu ternyata betul karena kompor tenaga surya yang dibuat dari serpihan kaca datar yang ditempelkan hingga membentuk kaca cembung mirip parabola dengan garis tengah (diameter) dua meter justru menghasilkan panas 600 derajat celsius. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Kalau diameter hanya 190 sentimeter dapat memasak satu liter air hingga mendidih dalam 5-6 menit, sedangkan jika diameter-nya 286 sentimeter (dua meter lebih) dapat memasak satu liter air dalam 1,5 menit,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Untuk memasak air di dalam rumah, katanya, uap panas yang dihasilkan kompor surya itu dapat disalurkan dengan slang karet pompa sepeda sepanjang lima meter untuk diarahkan ke bawah alat pemasak air yang disiapkan di dapur rumah. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Kompor surya itu juga dapat dijadikan parabola beneran dengan diberi LNB, kabel, dan receiver, lalu diarahkan ke satelit, sehingga menghasikan 100 channel di televisi dari berbagai benua di dunia,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Ia menambahkan kompor surya yang pertama kali dibuat pada 1991 itu seharga Rp70 ribu karena dibuat dari bahan bekas, sedangkan hasil rancangan berikutnya yang sudah mencapai 101 unit diberi harga Rp1,750 juta. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Prinsip yang sama saya gunakan untuk alat lain dengan diberi kolektor (penyerap panas) sehingga menghasilkan alat pengering tenaga surya (1998), alat pemanas air tenaga surya (2002), alat penyuling air tenaga surya (2003), dan rumah surya (2004),&#8221; katanya. </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.sinarharapan.co.id/" target="_top"><span style="text-decoration:none;">Sinar Harapan (25 Februari 2005)</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=30&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/penemu-kompor-surya-diusulkan-terima-penghargaan-who/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlu Keputusan Politik Kembangkan Sel Surya</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/perlu-keputusan-politik-kembangkan-sel-surya/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/perlu-keputusan-politik-kembangkan-sel-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/perlu-keputusan-politik-kembangkan-sel-surya/</guid>
		<description><![CDATA[Bandung, Kompas &#8211; Sebagai negara yang dilewati garis khatulistiwa, Indonesia potensial mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya sebagai alternatif batubara dan diesel. Namun, hingga saat ini sikap pemerintah untuk mengembangkannya dirasa kurang serius. Ahli sel surya, Wilson Wenas dari Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (28/10), di Bandung, mengatakan, belum ada keputusan politik untuk mengembangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=29&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Bandung</span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">, Kompas &#8211; Sebagai negara yang dilewati garis khatulistiwa, Indonesia potensial mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya sebagai alternatif batubara dan diesel. Namun, hingga saat ini sikap pemerintah untuk mengembangkannya dirasa kurang serius. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Ahli sel surya, Wilson Wenas dari Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (28/10), di Bandung, mengatakan, belum ada keputusan politik untuk mengembangkan teknologi itu sebagai bagian dari industri strategis. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Kami khawatir jika nantinya teknologi ini berkembang, Indonesia hanya jadi penonton. Padahal, Indonesia mempunyai nilai tambah sebagai negara khatulistiwa yang menerima panas matahari lebih banyak dari negara lain,&#8221; katanya.</span><span id="more-29"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> Menurut Wilson, aplikasi teknologi sel surya untuk sekarang memang relatif mahal, namun bila tidak mengembangkannya , nantinya Indonesia hanya akan menjadi pasar empuk bagi produsen luar. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Dulu, aplikasi teknologi handphone juga pernah dilakukan oleh ITB. Tetapi, karena tidak ada keputusan politik mengenai industri handphone ini, akhirnya Indonesia hanya jadi konsumen. Mana ada handphone buatan Indonesia,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Menurut Wilson, <em>booming</em> handphone di Indonesia adalah tragedi, mengingat teknologi itu sesungguhnya sudah dikembangkan ITB hampir 20 tahun silam. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar teknologi sel surya tidak mengulang tragedi tersebut. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Wilson</span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> yang pernah meraih <em>award</em> dan hadiah 500.000 yen dari Tokyo Institute of Technology dengan proyek penelitian S3 teknologi semikonduktor dan aplikasi sel surya mengatakan, pengembangan berikut aplikasi teknologi membutuhkan waktu serta modal untuk industri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Namun, pengembangan teknologi ini dilematis di Indonesia. Di satu sisi perakitan pembangkit listrik tenaga surya diwajibkan menggunakan komponen minimal 80% </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">produk lokal, sedangkan di sisi lain pabrik pembuatan <em>photovoltaic</em> berupa film tipis sebagai komponen utama belum ada. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Di Jepang, teknologi sel surya sudah berkembang pesat sebagai industri dengan dipelopori oleh pemerintah setempat. Pada tahun 1974, harga selembar film tipis 25.000 yen/watt, tahun 1992 harganya sudah turun drastis menjadi 400 yen/watt. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Thin film</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> bisa diproduksi apabila telah ada pabrik photovoltaic, sedangkan biaya pembuatan pabrik berkisar Rp 50 miliar-Rp 100 miliar. Sel surya bisa tahan dipakai 20 tahun. Selembar sel ukuran satu meter persegi bisa menghasilkan 100-150 watt. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">(zal) </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"><em> Redaksi Kompas</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber: </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"><a href="http://www.energi.lipi.go.id/"><span>www.energi.lipi.go.id</span></a></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=29&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/perlu-keputusan-politik-kembangkan-sel-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prospek PLTS di Indonesia</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/prospek-plts-di-indonesia/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/prospek-plts-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:17:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/prospek-plts-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Energi baru dan terbarukan mulai mendapat perhatian sejak terjadinya krisis energi dunia yaitu pada tahun 70-an dan salah satu energi itu adalah energi surya. Energi itu dapat berubah menjadi arus listrik yang searah yaitu dengan menggunakan silikon yang tipis. Sebuah kristal silindris Si diperoleh dengan cara memanaskan Si itu dengan tekanan yang diatur sehingga Si [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=28&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Energi baru dan terbarukan mulai mendapat perhatian sejak terjadinya krisis energi dunia yaitu pada tahun 70-an dan salah satu energi itu adalah energi surya. Energi itu dapat berubah menjadi arus listrik yang searah yaitu dengan menggunakan silikon yang tipis. Sebuah kristal silindris Si diperoleh dengan cara memanaskan Si itu dengan tekanan yang diatur sehingga Si itu berubah menjadi penghantar. Bila kristal silindris itu dipotong stebal 0,3 mm, akan terbentuklah sel-sel silikon yang tipis atau yang disebut juga dengan sel surya fotovoltaik. Sel-sel silikon itu dipasang dengan posisi sejajar/seri dalam sebuah panel yang terbuat dari alumunium atau baja anti karat dan dilindungi oleh kaca atau plastik. Kemudian pada tiap-tiap sambungan sel itu diberi sambungan listrik. Bila sel-sel itu terkena sinar matahari maka pada sambungan itu akan mengalir arus listrik. Besarnya arus/tenaga listrik itu tergantung pada jumlah energi cahaya yang mencapai silikon itu dan luas permukaan sel itu.</span><span id="more-28"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Pada asasnya sel surya fotovoltaik merupakan suatu dioda semikonduktor yang berkerja dalam proses tak seimbang dan berdasarkan efek fotovoltaik. Dalam proses itu sel surya menghasilkan tegangan 0,5-1 volt tergantung intensitas cahaya dan zat semikonduktor yang dipakai. Sementara itu intensitas energi yang terkandung dalam sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi besarnya sekitar 1000 Watt. Tapi karena daya guna konversi energi radiasi menjadi energi listrik berdasarkan efek fotovoltaik baru mencapai 25 persen maka produksi listrik maksimal yang dihasilkan sel surya baru mencapai 250 Watt per m2 . Dari sini terlihat bahwa PLTS itu membutuhkan lahan yang luas. Hal itu merupakan salah satu penyebab harga PLTS menjadi mahal. Ditambah lagi harga sel surya fotovoltaik berbentuk kristal mahal, hal ini karena proses pembuatannya yang rumit. Namun, kondisi geografis Indonesia yang banyak memiliki daerah terpencil sulit dibubungkan dengan jaringan listrik PLN. Kemudian sebagai negara tropis Indonesia mempunyai potensi energi surya yang tinggi. Hal ini terlihat dari radiasi harian yaitu sebesar 4,5 kWh/m2/hari. Berarti prospek penggunaan fotovoltaik di masa mendatang cukup cerah. Untuk itulah perlu diusahakan menekan harga fotovoltaik misalnya dengan cara sebagai berikut. Pertama menggunakan bahan semikonduktor lain seperti Kadmium Sulfat dan Galium Arsenik yang lebih kompetitif. Ke dua meningkatkan efisiensi sel surya dari 10% menjadi 15% </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Energi listrik yang berasal dari energi surya pertama kali digunakan untuk penerangan rumah tangga dengan sistem desentralisasi yang dikenal dengan Solar Home System (SHS), kemudian untuk TV umum, komunikasi dan pompa air. Sementara itu evaluasi program SHS di Indonesia pada proyek Desa Sukatani, Bampres, dan listrik masuk desa menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan dengan keberhasilan penerapan secara komersial. Berdasarkan penelitian yang dilakukan sampai tahun 94 jumlah pemakaian sistem fotovoltaik di Indonesia sudah mencapai berkisar 2,5-3 MWp. Yang pemakaiannya meliputi kesehatan 16% hibrida 7&amp; pompa air 5% penerangan pedesaan 13% radio dan TV<span>  </span>komunukasi 46,6% dan lainnya 11,8%. Kemudian dari kajian awal BPPT diperoleh proyeksi kebutuhan sistem PLTS diperkirakan akan mencapai 50 MWp. Sementara itu menurut perkiraan yang lain pemakaian fotovoltaik di Indonesia 5-10 tahun mendatang akan mencapai 100 MW terutama untuk penerangan di pedesaan. Sedangkan permintaan fotovotaik diperkirakan sudah mencapai 52 MWp.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Fotovoltaik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Komponen utama sistem surya fotovoltaik adalah modul yang merupakan unit rakitan beberapa sel surya fotovoltaik. Untuk membuat modul fotovoltaik secara pabrikasi bisa menggunakan teknologi kristal dan thin film. Modul fotovoltaik kristal dapat dibuat dengan teknologi yang relatif sederhana, sedangkan untuk membuat sel fotovoltaik diperlukan teknologi tinggi. Modul fotovoltaik tersusun dari beberapa sel fotovoltaik yang dihubungkan secara seri dan paralel. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat modul sel surya yaitu sebesar 60% dari biaya total. Jadi, jika modul sel surya itu bisa diproduksi di dalam negeri berarti akan bisa menghemat biaya pembangunan PLTS. Untuk itulah, modul pembuatan sel surya di Indonesia tahap pertama adalah membuat bingkai (frame), kemudian membuat laminasi dengan sel-sel yang masih diimpor. Jika permintaan pasar banyak maka pembuatan sel dilakukan di dalam negeri. Hal ini karena teknologi pembuatan sel surya dengan bahan silikon single dan poly cristal secara teoritis sudah dikuasai. Dalam bidang fotovoltaik yang digunakan pada PLTS, Indonesia ternyata telah melewati tahapan penelitian dan pengembangan dan sekarang menuju tahapan pelaksanaan dan instalasi untuk elektrifikasi untuk pedesaan. Teknologi ini cukup canggih dan keuntungannya adalah harganya murah, bersih, mudah dipasang dan dioperasikan dan mudah dirawat. Sedangkan kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan energi surya fotovoltaik adalah investasi awal yang besar dan harga per kWh listrik yang dibangkitkan relatif tinggi, karena memerlukan subsistem yang terdiri atas baterai, unit pengatur dan inverter sesuai dengan kebutuhannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Hibrida</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Dalam penerapannya fotovoltaik dapat digabungkan dengan pembangkit lain seperti pembangkit tenaga diesel (PLTD) dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTM). Penggabungan ini dinamakan sistem hibrida yang tujuannya untuk mendapatkan daya guna yang optimal. Pada sistem ini PLTS merupakan komponen utama, sedang pembangkit listrik lainnya digunakan untuk mengkompensasi kelemahan sistem PLTS dan mengantisipasi ketidakpastian cuaca dan sinar matahari. Pada sistem PLTS-PLTD, PLTD-nya akan digunakan sebagai &#8220;bank up&#8221; untuk mengatasi beban maksimal. Pengkajian dan penerapan sistem ini sudah dilakukan di Bima (NTB) dengan kapasitas PLTS 13,5 kWp dan PLTD 40 kWp.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Penggabungan antara PLTS dengan PLTM mempunyai prospek yang cerah. Hal ini karena sumber air yang dibutuhkan PLTM relatif sedikit dan itu banyak terdapa di desa-desa. Untuk itulah pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang telah merealisasi penerapan sistem model hidro ini di desa Taratak (Lombok Tengah) dengan kapasitas PLTS 48 kWp dan PLTM sebesar 6,3 kW.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Pada sistem hibrida antara fotovoltaik dengan Fuel Cell (sel bahan bakar), selisih antara kebutuhan listrik pada beban dan listrik yang dihasilkan oleh fotovoltaik akan dipenuhi oleh fuel cell. Controller berfungsi untuk mengatur fuel cell agar listrik yang keluar sesuai dengan kepeluan. Arus DC yang dihasilkan fuel cell dan arus fotovoltaik digabungkan pada tegangan DC yang sama kemudian diteruskan ke power conditioning subsystem ( PCS ) yang berfungsi untuk mengubah arus DC menjadi arus AC. Keuntungan sistem ini adalah efisiensinya tinggi sehingga dapat menghemat bahan bakar, dan kehilangan daya listrik dapat diperkecil dengan menempatkan fuel cell dekat pusat beban.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sistem PLTS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">PLTS dengan sistem sentralisasi artinya pembangkit tenaga listrik dilakukan secara terpusat dan suplai daya ke konsumen dilakukan melalui jaringan distribusi. Sistem ini cocok dan ekonomis pada daerah dengan kerapatan penduduk yang tinggi. Contohnya PLTS di Desa Kentang Gunung Kidul mempunyai kapasitas daya 19 kWp, kapasitas baterai 200 volt dan beban berupa penerangan yang terpasang pada 85 rumah. Sementara itu PLTS dengan sistem individu daya terpasangnya relatif kecil yaitu sekitar 48-55 Wp. Jumlah daya sebesar 50 Wp per rumah tangga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan penerangan, informasi (TV dan Radio) dan komunikasi (Radio komunikasi). Dan sampai tahun 95 sistem ini sudah terpasang sekitar 10.000 unit yang tersebar di seluruh perdesaan Indonesia dan pengelolaannya yang meliputi pemeliharaan dan pembayaran dilaksanakan oleh KUD.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Melihat trend harga sel surya yang semakin menurun dan dalam rangka memperkenalkan sistem pembangkit yang ramah lingkungan, pemanfaatan PLTS dengan sistem individu semakin ditingkatkan. Pada tahap pertama direncanakan akan dipasang 36.000 unit SHS selama tiga tahun dengan prioritas 10 propinsi di kawasan timur Indonesia. Paling tidak ada 5 keuntungan pembangkit dengan surya fotovoltaik. Pertama energi yang digunakan adalah energi yang tersedia secara cuma-cuma. Kedua perawatannya mudah dan sederhana. Ketiga tidak terdapat peralatan yang bergerak, sehingga tidak perlu penggantian suku cadang dan penyetelan pada pelumasan. Keempat peralatan bekerja tanpa suara dan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Kelima dapat bekerja secara otomatis.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"><em>Deni Almanda</em> (Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Jakarta)</span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.elektroindonesia.com/" target="_top"><span style="text-decoration:none;">ELEKTRO INDONESIA (November 1997)</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=28&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/prospek-plts-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Solar Cell Sumber Energi masa depan yang ramah lingkungan</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/solar-cell-sumber-energi-masa-depan-yang-ramah-lingkungan/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/solar-cell-sumber-energi-masa-depan-yang-ramah-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/solar-cell-sumber-energi-masa-depan-yang-ramah-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[Energi adalah satu kata yang mempunyai makna sangat luas karena tidak ada aktivitas di alam raya ini yang bergerak tanpa $(BEF (Bnergi $(B!&#38; (B dan itulah sebabnya kata salah seorang professor di Jepang bahwa hampir semua perselisihan di dunia ini, berpangkal pada perebutan sumber energi. Secara umum sumber energi dikategorikan menjadi dua bagian yaitu non-renewable [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=27&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><span style="font-size:13.5pt;font-family:Helvetica;color:#72642d;"></span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Energi adalah satu kata yang mempunyai makna sangat luas karena tidak ada aktivitas di alam raya ini yang bergerak tanpa $(BEF (Bnergi $(B!&amp; (B dan itulah sebabnya kata salah seorang professor di Jepang bahwa hampir semua perselisihan di dunia ini, berpangkal pada perebutan sumber energi. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Secara umum sumber energi dikategorikan menjadi dua bagian yaitu non-renewable energy dan renewable energy. Sumber energi fosil adalah termasuk kelompok yang pertama yang sebagaian besar aktivitas di dunia ini menggunakan energi konvensional ini. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sekitar tahun delapan puluhan ketika para ahli di Indonesia menawarkan sumber energi alternatif yang banyak digunakan di negara maju yaitu nuklir, banyak terjadi pertentangan dan perdebatan yang cukup panjang sehingga mengkandaskan rencana penggunaan sumber energi yang dinilai sangat membahayakan itu. Diantara usulan yang banyak dilontarkan kala itu adalah mengapa kita tidak menggunakan sumber energi surya. Memang tidak diragukan lagi bahwa <em>solar cell</em> adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan dan sangat menjanjikan pada masa yang akan datang, karena tidak ada polusi yang dihasilkan selama proses konversi energi, dan lagi sumber energinya banyak tersedia di alam, yaitu sinar matahari, terlebih di negeri tropis semacam Indonesia yang menerima sinar matahari sepanjang tahun.</span><span id="more-27"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> Permasalahan mendasar dalam teknologi <em>solar cell</em> adalah efisiensi yang sangat rendah dalam merubah energi surya menjadi energi listrik, yang sampai saat ini efisiensi tertinggi yang bisa dicapai tidak lebih dari 20 persen, itupun dalam skala laboratorium </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Untuk itu di negara-negara maju, penelitian tentang <em>solar cell</em> ini mendapatkan perhatian yang sangat besar, terlebih dengan isu bersih lingkungan $(B!&amp; (Byang marak digembar gemborkan. </span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Dari cahaya menjadi Listrik </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Secara sederhana <em>solar cell</em> terdiri dari persambungan bahan semikonduktor bertipe p dan n (p-n junction semiconductor) yang jika tertimpa sinar matahari maka akan terjadi aliran electron, nah aliran electron inilah yang disebut sebagai aliran arus listrik. Sedangkan struktur dari <em>solar cell</em> adalah seperti ditunjukkan dalam gambar 1. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Bagian utama perubah energi sinar matahari menjadi listrik adalah absorber (penyerap), meskipun demikian, masing-masing lapisan juga sangat berpengaruh terhadap efisiensi dari <em>solar cell</em>. Sinar matahari terdiri dari bermacam-macam jenis gelombang elektromagnetik yang secara spektrum dapat dilihat pada gambar 2. Oleh karena itu <em>absorber</em> disini diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin solar radiation yang berasal dari cahaya matahari. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Lebih detail lagi bisa dijelaskan sinar matahari yang terdiri dari photon-photon, jika menimpa permukaaan bahan solar sel (<em>absorber</em>), akan diserap, dipantulkan atau dilewatkan begitu saja (lihat gambar 3), dan hanya foton dengan level energi tertentu yang akan membebaskan electron dari ikatan atomnya, sehingga mengalirlah arus listrik. Level energi tersebut disebut energi <em>band-gap</em> yang didefinisikan sebagai sejumlah energi yang dibutuhkan untuk mengeluarkan electron dari ikatan kovalennya sehingga terjadilah aliran arus listrik. Untuk membebaskan electron dari ikatan kovalennya, energi foton (<em>hc</em>) harus sedikit lebih besar/diatas daripada energi <em>band-gap</em>. Jika energi foton terlalu besar dari pada energi <em>band-gap</em>, maka extra energi tersebut akan dirubah dalam bentuk panas pada solar sel. Karenanya sangatlah penting pada solar sel untuk mengatur bahan yang dipergunakan, yaitu dengan memodifikasi struktur molekul dari semikonduktor yang dipergunakan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Tentu saja agar efisiensi dari <em>solar cell</em> bisa tinggi maka foton yang berasal dari sinar matahari harus bisa diserap yang sebanyak banyaknya, kemudian memperkecil refleksi dan remombinasi serta memperbesar konduktivitas dari bahannya. Untuk bisa membuat agar foton yang diserap dapat sebanyak banyaknya, maka absorber harus memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga memungkinkan untuk bisa menyerap sinar matahari yang mempunyai energi sangat bermacam-macam tersebut. Salah satu bahan yang sedang banyak diteliti adalah CuInSe2 yang dikenal merupakan salah satu dari direct semiconductor. Dari begitu banyak keuntungan <em>solar cell</em> seperti telah diuraikan diatas ternyata tidak polemik tidak kemudian berhenti begitu saja, masih ada yang mengatakan memang benar <em>solar cell</em> ketika melakukan proses perubahan energi tidak ada polusi yang dihasilkan, tetapi sudahkah kita menghitung berapa besar polusi yang telah dihasilkan dalam proses pembuatannya, dibandingkan kecilnya efisiensi yang dihasilkan. Nah tantangannya disini adalah memang bagaimana untuk menaikkan efisiensi, yang tentunya akan berdampak kepada nilai ekonomisnya. (RTW) </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber: <a href="http://www.energi.lipi.go.id/">www.energi.lipi.go.id</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=27&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/solar-cell-sumber-energi-masa-depan-yang-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Solar Power Satellite (SPS) : Alternatif Baru Sumber Energi Listrik untuk Masa Depan</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/solar-power-satellite-sps-alternatif-baru-sumber-energi-listrik-untuk-masa-depan/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/solar-power-satellite-sps-alternatif-baru-sumber-energi-listrik-untuk-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:14:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/solar-power-satellite-sps-alternatif-baru-sumber-energi-listrik-untuk-masa-depan/</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak Sangat terbatasnya sumber daya alam sebagai sumber primer (air, bahan bakar fossil, gas alam, panas bumi, dll.) untuk pembangkitan energi listrik telah memacu diversifikasi pemanfaatan sumber primer lainnya, antara lain energi nuklir dan energi matahari. Kontroversi yang ditimbulkan oleh pembangkit bertenaga nuklir akibat tingkat resiko yang tinggi menyebabkan pembangunan pembangkit jenis ini mengalami pro-kontra [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=26&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Helvetica;color:#72642d;"></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Abstrak</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sangat terbatasnya sumber daya alam sebagai sumber primer (air, bahan bakar fossil, gas alam, panas bumi, dll.) untuk pembangkitan energi listrik telah memacu diversifikasi pemanfaatan sumber primer lainnya, antara lain energi nuklir dan energi matahari. Kontroversi yang ditimbulkan oleh pembangkit bertenaga nuklir akibat tingkat resiko yang tinggi menyebabkan pembangunan pembangkit jenis ini mengalami pro-kontra dimana-mana. Energi matahari yang bebas pencemaran dan bersifat eternal tidak bisa memberikan kontribusi yang cukup di permukaan bumi karena ketergantungannya pada cuaca dan adanya siklus siang-malam. Sumber energi primer yang eternal dan bebas pencemaran ini kini sedang diusahakan untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan cara menampungnya di angkasa luar dan mengirimkannya ke bumi. Inilah konsep dasar sistem SPS. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Konsep yang ditemukan oleh Dr. P. E. Glaser pada tahun 1968 ini telah membuka cakrawala baru di bidang pemanfaatan maksimal energi matahari. Prinsip dasarnya adalah pengumpulan energi matahari oleh satelit di angkasa luar (pada orbit sinkron bumi), mengirimkan energi tersebut dalam bentuk gelombang radio ke bumi, dan kemudian mengubahnya menjadi energi listrik. Karena pengumpulan energi matahari (dengan sel fotovoltaik) dilakukan di luar angkasa maka pengaruh cuaca dihilangkan dan siklus siang-malam nyaris tak terjadi. Bahkan unjuk kerjanya meningkat tajam karena di luar angkasa (di GEO) panel sel surya akan menerima iluminasi cahaya lebih dari 22 jam untuk setiap harinya. Secara teoritis kapasitas daya yang mampu dibangkitkan oleh sebuah satelit jenis ini cukup besar (5~10 GW) dan dampak lingkungan yang ditimbulkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan dampak yang ditimbulkan oleh pembangkit berbahan bakar fossil/nuklir.</span><span id="more-26"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> </span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Latar Belakang</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Kebutuhan energi dunia akhir-akhir ini sangat meningkat tajam, terutama dengan munculnya negara-negara industri raksasa. Peningkatan ini akan sangat terasa pada dekade-dekade awal abad ke-21. Sebagai contoh, pada tahun 2000 kebutuhan energi listrik dunia akan mencapai 7~8 trilyun KWH dan pada tahun 2020 akan mencapai 14,5 trilyun KWH. Pada dekade ini, bahan bakar fossil dan gas bumi sebagai sumber primer hanya akan mampu menyumbang 5 trilyun KWH saja<sup>[1]</sup>. Padahal sumber primer jenis ini amat sangat terbatas, dan pada suatu saat kelak benar-benar akan habis. Tenaga nuklir sebagai alternatif diversifikasi sumber energi listrik hingga saat ini masih dibayangi masalah bahaya pencemaran radioaktif dan penanganan limbah yang rumit serta mahal sehingga mengakibatkan sebagian masyarakat tak menghendaki kehadirannya karena tingkat resiko yang relatif sangat tinggi. Walaupun demikian, hingga saat ini energi nuklir sudah menyumbang 1,65 trilyun KWH dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2000 (3,5 trilyun KWH). Dengan ditemukannya teknologi pemrosesan ulang limbah nuklir, sumbangan dari sektor nuklir bisa ditingkatkan menjadi maksimum 6 trilyun KWH pada tahun 2010. Karena bahan uranium yang digunakan juga terbatas, maka titik tertinggi ini sulit sekali dilampaui, dan bahkan pada tahun 2020 diperkirakan akan terjadi penurunan. Jika pada dasawarsa ini pemrosesan limbah nuklir bisa lebih berhasil dan memungkinkan pengoperasian &#8220;breeder reator&#8221; (LMFBR-Liquid Metal Fast Breeder Reactor), maka bisa diharapkan penambahan energi hingga 2 trilyun KWH (maksimum). Dengan demikian maka di tahun 2020 kekurangan energi listrik dunia adalah sejumlah 4,5 trilyun KWH. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Pemanfaatan energi matahari di permukaan bumi sebagai sumber energi listrik diperkirakan hanya akan mampu menyumbang kurang dari 1 trilyun KWH saja karena adanya ketergantungan pada kondisi cuaca dan siklus siang-malam, dan sangat sulit untuk ditingkatkan kapasitasnya karena masih rendahnya efisiensi sel fotovoltaik. Keadaan ini diperburuk dengan pendeknya periode iluminasi sinar matahari yang hanya sekitar 6~8 jam saja setiap harinya. Lebih jauh lagi, energi matahari yang sampai ke permukaaan bumi sudah jauh menyusut dibandingkan semasa masih di angkasa luar. Sebagai contoh, di orbit sinkron bumi (Geosynchronous Earth Orbit-GEO, sekitar 36.000 km di atas khatulistiwa) kerapatan energi matahari masih sekitar 1360 W/m2<sup>2[2],[6]</sup>. Setelah mengalami banyak penyerapan/pantulan selama perjalannya ke permukaan bumi, hanya tersisa sekitar 120 W/m<sup>2</sup>(pada sudut latitude 50<sup>o</sup>). </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Di GEO, perioda iluminasi sinar matahari bisa mencapai 22 jam 48 menit tanpa gangguan cuaca sama sekali. Jika ditempatkan di GEO, panel sel surya akan menghasilkan daya 11,25 kali lebih besar dan waktu kerja hampir 3,8 kali lebih lama jika dibandingkan dengan panel yang sama di permukaan bumi. Dari kenyataan ini dapatlah dimengerti bahwa pengumpulan energi matahari di luar angkasa merupakan satu-satunya cara terbaik untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi matahari. Konsep inilah yang mendasari sistem SPS. <strong>Konsep Dasar SPS</strong> Dr. Peter E. Glaser pada tahun 1968 telah mencetuskan konsep dasar SPS<sup>[4]</sup>. Di dalam konsep ini, energi matahari dihimpun oleh sebuah satelit yang ditempatkan di orbit sinkron bumi dan lazim disebut dengan spacetenna (space antenna). Energi yang terhimpun dalam bentuk energi listrik dikirimkan ke bumi dalam bentuk energi elektromagnetik (gelombang radio). Menggunakan sebuah pemancar berdaya ultra tinggi, energi radio ini dikirimkan ke bumi, dan diterima oleh sebuah sistem antena penerima (rectifying antenna, rectenna) yang akan mengubahnya menjadi energi listrik kembali dan didistribusikan ke pemakai. Prinsip yang sangat sederhana ini ternyata memerlukan pertimbangan, perhitungan dan evaluasi banyak aspek dengan cermat dan mendalam, karena sistem ini boleh dikatakan baru sama sekali dan menuntut penggunaan teknologi sangat tinggi. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Karena terbatasnya ruang maka tulisan ini hanya akan membahas secara garis besar aspek kontruksi spacetenna, rectenna, dan dampak lingkungan. </span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Spacetenna</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Yang menjadi masalah paling utama adalah pembangunan satelit penampung energi matahari di orbit sinkron bumi. Satelit ini harus berukuran raksasa karena harus menghimpun energi matahari yang sanggup menghasilkan energi listrik yang optimal. Sebagai contoh, dengan tingkat teknologi masa ini, agar mampu menghasilkan energi listrik sebesar 5 GW diperlukan jajaran sel fotovoltaik berukuran 5x10x0,5 km<sup>[5]</sup>. Teknologi pembuatan sel surya ini hingga saat ini masih terus disempurnakan agar mampu menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi dari yang mampu dicapai pada 1 dekade terakhir ini (</span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"><em>Yuliman Purwanto)</em> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.elektroindonesia.com/" target="_top"><span style="text-decoration:none;">Elektro Indonesia 3/1996</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=26&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/solar-power-satellite-sps-alternatif-baru-sumber-energi-listrik-untuk-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wilson Wenas Gelisah akan Tragedi Sel Surya</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/wilson-wenas-gelisah-akan-tragedi-sel-surya/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/wilson-wenas-gelisah-akan-tragedi-sel-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/wilson-wenas-gelisah-akan-tragedi-sel-surya/</guid>
		<description><![CDATA[Jean Rizal Layuck (Kompas) PERASAAN galau bercampur waswas menghinggapi Wilson Walery Wenas PhD ketika berbincang dengan Kompas, Senin (15/12), tentang masa depan listrik tenaga surya di Indonesia. Kepala Laboratorium Riset Semikonduktor Institut Teknologi Bandung ini menyatakan, nasib teknologi listrik tenaga surya yang dikuasai ITB bakal tidak ada manfaatnya apabila pemerintah terlambat menurunkan kebijakan pengembangannya. Ironisnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=25&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"><em>Jean Rizal Layuck</em> (Kompas) </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">PERASAAN galau bercampur waswas menghinggapi Wilson Walery Wenas PhD ketika berbincang dengan Kompas, Senin (15/12), tentang masa depan listrik tenaga surya di Indonesia. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Kepala Laboratorium Riset Semikonduktor Institut Teknologi Bandung ini menyatakan, nasib teknologi listrik tenaga surya yang dikuasai ITB bakal tidak ada manfaatnya apabila pemerintah terlambat menurunkan kebijakan pengembangannya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Ironisnya lagi, tutur Wilson, jika kemudian Indonesia yang memiliki potensi tinggi di bidang teknologi sel surya (solar cell) ini lalu cuma jadi pasar potensial dari negara tetangga, seperti Thailand, Korea, dan Jepang, yang giat mengembangkan teknologi ini. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;Kalau pemerintah terlambat menurunkan kebijakan pengembangan listrik tenaga surya seperti halnya saat pemerintah enggan memanfaatkan teknologi telepon seluler (handphone/ HP) yang dikuasai ITB sejak 15 tahun lalu, sudah dapat diduga nasib teknologi solar cell ini akan sama dengan teknologi HP. Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi negara produsen solar cell. Ini namanya tragedi,&#8221; kata Wilson.</span><span id="more-25"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">PERKEMBANGAN pesat sedang terjadi pada teknologi listrik tenaga surya. Pada saat Jepang mulai mengembangkan pada tahun 1974, harganya berkisar 20.000 yen per watt peak (Wp). Tahun 1985, harga turun menjadi 1.000 yen per Wp, dan dengan kemajuan pesat dalam riset dan pengembangan teknologi, harga per Wp turun lagi saat ini mencapai 140 yen. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Harga ini masih lebih mahal dari harga listrik konvensional sebesar 100 yen per Wp, tetapi mulai tahun 2020 harga pembangkitan listrik sel surya ini sudah bisa lebih murah 50 persen dari listrik konvensional. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Wilson yang juga Wakil Direktur Basic Science Center Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan, dengan total intensitas penyinaran rata-rata 4,5 kWh per meter persegi per hari, Indonesia tergolong kaya sumber energi Matahari. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Di samping itu, karena letaknya di khatulistiwa, Matahari bersinar di Indonesia per tahun berkisar 2.000 jam. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sementara itu, menurut data tahun 1997 dari Ditjen Listrik dan Pengembangan Energi, kapasitas terpasang listrik tenaga surya di Indonesia baru mencapai 0,88 MW dari potensi yang tersedia 1,2 x 109 MW29. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengembangkan aplikasi teknologi sel surya dengan menggunakan panel sel surya impor sejak tahun 1980. Sistem fotovoltaik ini dipasang di daerah terpencil seperti Sumba, Sipirok di Sumatera Utara, Pelaw di Maluku, Kepulauan Seribu, Nusa Penida, dan beberapa daerah terpencil lainnya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Riset dan aplikasi sel surya juga sudah dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Lembaga Energi Nasional (LEN) dengan fokus riset masih berbasis silikon. Sedangkan di Departemen Fisika ITB dikembangkan sel surya silikon amorf dengan teknik penumbuhan menggunakan peralatan plasma enhanced chemical vapor depodotion. Teknologi ini mampu memperoleh efisiensi sebelum terdegradasi sekitar 11 persen. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Untuk memasuki tahap produksi ekonomis, efisiensi sel surya silikon amorf harus mencapai 10 persen. Peningkatan dimaksud sangat mungkin karena masih banyak variabel fabrikasi yang belum dioptimalkan. Di samping itu, menurut Wilson, ia sedang mengembangkan sel surya baru dengan struktur berbasis material ZnO dan Si. Sel surya ini akan difabrikasi dalam ukuran besar dan diharapkan akan menjadi modul sel surya pertama yang dibuat secara mandiri di Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Wilson dalam disertasi berjudul Study on Textured ZnO Thin Film and Its Application to Sollar Cells untuk gelar doktor pada tahun 1994 di Department of Electrical and Electronic Engineering, Tokyo Institute of Technology, menawarkan tekstur bergerigi, selama ini rata, sebagai usulan baru dalam pengembangan sel surya. Teori baru itu ternyata mampu membuktikan dengan menggunakan lapisan bergerigi, sinar Matahari yang terserap ke dalam sel surya tingkat efisiensinya meningkat, sekitar 15-20 persen dari potensi awal. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Penemuan ini cukup spektakuler sehingga dimuat di Nihon Kogyo Shimbun edisi 12 April 1991. &#8220;Besok hari, sesudah dipublikasi koran, laboratorium tempat saya meneliti didatangi kalangan industriwan Jepang,&#8221; kata Wilson yang dalam penelitian dibimbing oleh Makato Konagai. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sekarang material ini telah digunakan secara luas di industri sel surya di Jepang, yaitu Fuji Elektrik dan Showa Sel. Penemuan itu kemudian dipatenkan atas namanya, Wilson Walery Wenas, nyong Manado kelahiran Desa Suwaan, Kecamatan Airmadidi Tonsea, yang masih membujang. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">&#8220;PENEMUAN itu bukan puncak pencarian saya sebagai ilmuwan,&#8221; kata Wilson. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Hingga kini dia masih terus dalam proses pencarian dan pendalaman. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Beberapa penemuan terbarunya akan dipublikasikan awal Januari 2004 di Konferensi Internasional Ke-14 Photovoltaic di Bangkok, Thailand, di depan pakar sel surya, termasuk Prof Martin Green dari Australia. Pada forum itu, Wilson bersama mahasiswanya, Syarief Riyadi, untuk pertama kali memaparkan teori baru lagi mengenai cara kerja sel surya baru berstruktur Zno, Si02, dan Si. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sel surya ini cukup ekonomis, sudah dibuat di beberapa negara termasuk di ITB, namun sampai saat ini belum ada penjelasan teoretis tentang cara kerjanya. &#8220;Kami diundang sebagai penemu teori dan kami siap menjelaskan teori itu di hadapan para ahli semikonduktor dunia,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Kehadiran Wilson di Bangkok sekaligus menunjukkan bahwa peneliti negara berkembang pun dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu dasar, tidak melulu melaporkan data atau fenomena eksperimen yang bersifat empiris atau aplikasi suatu teori secara sporadis. Penjelasan yang sama rencananya juga akan dilakukan di European Photovoltaic Conference, di Paris, Juni 2004. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">WILSON Walery Wenas dilahirkan tanggal 21 September 1964 dari pasangan Bernhard Gerungan Wenas dan Jeannette Wuysang. Ia lulus nomor satu (terbaik) di SMA Negeri I Manado, kemudian masuk ITB, mengambil ilmu fisika. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sejak menyelesaikan studi doktor di Jepang pada tahun 1994, Wilson tiga kali menjadi peneliti muda terbaik Indonesia dalam bidang teknik dan rekayasa, yaitu tahun 1996, 1997, dan 1998, setelah itu diangkat menjadi juri oleh LIPI. Pada tahun 1998 mendapat penghargaan Dosen Teladan I ITB. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Selain itu, ia pernah diundang menjadi ilmuwan tamu di Aritsu Companny, Jepang (1999), dosen tamu di Utrech University, Belanda (2000), dan menjadi pembicara pada seminar fotovoltaik internasional, selain menghasilkan 125 tulisan ilmiah yang sudah termuat di berbagai jurnal akademi tingkat dunia. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Untuk disertasi doktornya, Wilson mengembangkan sel surya jenis a-Si (amorf silikon) dan menghasilkan rekor efisiensi tertinggi di dunia, sebesar 12,9 persen. Hasil penelitian ini dianggap terbaik sehingga mendapat penghargaan dari Tokyo Engineering Institute of Technology dan uang 500.000 yen. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Tiga tahun kemudian, ITB membuat thin film light emitting diode dari bahan a-Si, yaitu lapisan tipis yang dapat memancarkan cahaya merah dan kuning, dan biasanya digunakan dalam peralatan seperti TV layar datar dan layar komputer notebook. Walaupun bukan yang pertama di dunia, ini salah satu tonggak terpenting di Indonesia untuk pengembangan teknologi optoelektronik. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Satu keinginan Wilson adalah melihat adanya suatu industri hi-tech yang strategis di Indonesia, tetapi langsung menyentuh kehidupan rakyat banyak. Contoh paling dekat adalah industri sel surya. Siapa berani? (Jean Rizal Layuck) </span></p>
<p><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"> : <a href="http://www.energi.lipi.go.id/www.kompas.co.id" target="_top"><span style="text-decoration:none;">Kompas (20-12-2003)</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;color:black;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=25&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/wilson-wenas-gelisah-akan-tragedi-sel-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mobil Surya Nasional</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/mobil-surya-nasional/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/mobil-surya-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 02:11:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/mobil-surya-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[Empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sepakat akan menggelar Kontes Mobil Surya Nasional mulai tahun 2006 sebagai tindaklanjut dari keberhasilan pelaksanaan Kontes Robot Indonesia (KRI) sejak tahun 1994 dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) sejak tahun 2001. &#8220;Kami sudah sepakat, bahkan Mendiknas juga sudah setuju tentang rencana itu. PTN yang sudah siap adalah ITS, UI, ITB [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=15&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sepakat akan menggelar Kontes Mobil Surya Nasional mulai tahun 2006 sebagai tindaklanjut dari keberhasilan pelaksanaan Kontes Robot Indonesia (KRI) sejak tahun 1994 dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) sejak tahun 2001.</span></strong><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;"><br />
</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;"><br />
&#8220;Kami sudah sepakat, bahkan Mendiknas juga sudah setuju tentang rencana itu. PTN yang sudah siap adalah ITS, UI, ITB dan UGM, karena itu kami akan mulai dari empat PTN dan akan terus ditingkatkan,&#8221; kata Rektor ITS Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA di Surabaya, Senin (16/5).</p>
<p>Ia menjelaskan gagasan untuk menyelenggarakan Kontes Mobil Surya Nasional sudah dibicarakan secara matang oleh keempat PTN di sela-sela acara KRI di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jakarta yang dibuka Mendiknas pada 14 Mei dan ditutup Dirjen Dikti Prof Dr Satryo Sumantri Brodjonegoro pada 15 Mei itu.</p>
<p>&#8220;Kalau kontes robot memiliki kesamaan dalam berat dan dimensi (panjang, lebar, tinggi), maka kontes mobil surya itu memiliki kesamaan dalam ukuran solar cell (panel surya) dan aki (batere penyimpan energi),&#8221; katanya.</span><span id="more-15"></span><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Ditanya tentang bentuk penilaian dalam kontes mobil surya itu, ia mengatakan yang dilombakan adalah kecepatan, jarak tempuh, dan ketahanan (lamanya baterai habis) atau efisiensi penyimpanan dan penggunaan energi surya dari mobil dengan waktu menyerap energi matahari yang sama.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">&#8220;Jadi, mobil surya yang akan tampil sebagai pemenang adalah mobil surya yang memiliki manajemen energi paling baik, memiliki kecepatan prima dan mampu menempuh jarak yang telah ditentukan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menurut Prof Nuh, kontes mobil surya itu akan dikemas dalam bentuk hiburan, sehingga akan mengundang banyak penonton dan peminat. &#8220;Tentang waktunya pasti diselenggarakan pada saat musim kemarau, tapi tempatnya belum bisa dipastikan, karena semuanya sedang digodok (dikaji),&#8221; katanya.</p>
<p>Ia menambahkan kontes mobil surya itu akan dapat membangun kesadaran dalam diri mahasiswa dan masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan energi matahari dan juga berkait dengan isu ramah lingkungan.</p>
<p>&#8220;Anggota dekanat Fakultas Teknik ITS saat ini sedang merumuskan pola dan menyusun proposan kontes itu dan nantinya akan saya sampaikan kepada Mendiknas dan Dirjen Dikti,&#8221; papar Prof Nuh.</p>
<p>ITS sendiri pernah mengembangkan mobil bertenaga surya hingga generasi ke tiga dengan nama Widya Wahana. Kegiatan tersebut pernah melambungkan nama ITS di tingkat nasional dengan diadakannya perjalanan dalam rangka uji coba mobil bertenaga matahari itu dari Jakarta menuju<br />
Surabaya.</p>
<p>Nama Widya Wahana itu diberikan Mendikbud Fuad Hasan yang diartikan sebagai wahana atau tempat belajar untuk para mahasiswa dalam memahami berbagai bidang ilmu yang ditekuninya. Kini, satu dari ketiga mobil itu menjadi koleksi museum energi baru di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah.</p>
<p>Kegiatan Widya Wahana akhirnya terhenti, karena kekurangan dana untuk kegiatan riset dan pengembangan terkait dengan <span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">makin tingginya harga sel surya di tingkat dunia, akibat krisis moneter di<br />
Indonesia. <strong><span style="font-family:Arial;"><a href="http://www.kompas.com/"><span style="font-weight:normal;">www.kompas.com</span></a></span></strong></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=15&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/07/mobil-surya-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Energi Surya: Alternatif Sumber Energi Masa Depan di Indonesia</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/energi-surya-alternatif-sumber-energi-masa-depan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/energi-surya-alternatif-sumber-energi-masa-depan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 03:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/energi-surya-alternatif-sumber-energi-masa-depan-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita melihat tingkat konsumsi energi di seluruh dunia saat ini, penggunaan energi diprediksikan akan meningkat sebesar 70 persen antara tahun 2000 sampai 2030. Sumber energi yang berasal dari fosil, yang saat ini menyumbang 87,7 persen dari total kebutuhan energi dunia diperkirakan akan mengalami penurunan disebabkan tidak lagi ditemukannya sumber cadangan baru.Cadangan sumber energi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=14&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Jika kita melihat tingkat konsumsi energi di seluruh dunia saat ini, penggunaan energi diprediksikan akan meningkat sebesar 70 persen antara tahun 2000 sampai 2030. Sumber energi yang berasal dari fosil, yang saat ini menyumbang 87,7 persen dari total kebutuhan energi dunia diperkirakan akan </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">mengalami penurunan disebabkan tidak lagi ditemukannya sumber cadangan baru.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Cadangan sumber energi yang berasal dari fosil diseluruh dunia diperkirakan hanya sampai 40 tahun untuk minyak bumi, 60 tahun untuk gas alam, dan 200 tahun untuk batu bara. Kondisi keterbatasan sumber energi di tengah semakin meningkatnya kebutuhan energi dunia dari tahun ketahun (pertumbuhan konsumsi energi tahun 2004 saja sebesar 4,3 persen), serta tuntutan untuk melindungi bumi dari pemanasan global dan polusi lingkungan membuat tuntutan untuk segera mewujudkan teknologi baru bagi sumber energi yang terbaharukan.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Di antara sumber energi terbaharukan yang saat ini banyak dikembangkan [seperti turbin angin, tenaga air (<em>hydro power</em>), energi gelombang air laut, tenaga surya, tenaga panas bumi, tenaga hidrogen, dan bio-energi], tenaga surya atau solar sel merupakan salah satu sumber yang cukup menjanjikan.</p>
<p>Energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari sebenarnya hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69 persen dari total energi pancaran matahari. Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 1024 joule pertahun, energi ini setara dengan 2 x 1017 Watt. Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0,1 persen saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10 persen sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini.</p>
<p>Energy surya atau dalam dunia internasional lebih dikenal sebagai solar cell atau <em>photovoltaic cell</em>, merupakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n, yang mampu merubah energi sinar matahari menjadi energi listrik.</p>
<p>Pengertian <em>photovoltaic</em> sendiri merupakan proses merubah cahaya menjadi energi listrik. Oleh karena itu bidang penelitian yang berkenaan dengan energi surya ini sering juga dikenal dengan penelitian <em>photovoltaic</em>. Kata <em>photovoltaic</em> sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Yunani <em>photo</em>s yang berarti cahaya dan<br />
volta yang merupakan nama ahli fisika dari Italia yang menemukan tegangan listrik. Sehingga secara bahasa dapat diartikan sebagai cahaya dan listrik  <em>photovoltaic.<span id="more-14"></span></em></p>
<p>Efek <em>photovoltaic</em> pertama kali berhasil diidentifikasi oleh seorang ahli Fisika berkebangsaan Prancis Alexandre Edmond Becquerel pada tahun 1839. Atas prestasinya dalam menemukan fenomena <em>photovoltaic</em> ini, Becquerel mendapat Nobel fisikia pada tahun 1903 bersama dengan<br />
Pierre dan Marrie Currie.</p>
<p>Baru pada tahun 1883 divais solar sel pertama kali berhasil dibuat oleh Charles Fritts. Charles Fritts saat itu membuat semikonduktor Selenium yang dilapisi dengan lapisan emas yang sangat tipis sehingga berhasil membentuk rangkaian seperti hubungan semikonduktor tipe p dan tipe n. Pada saat itu efisiensi yang didapat baru sekitar 1 persen. Pada perkembangan berikutnya seorang peneliti bernama Russel Ohl dikenal sebagai orang pertama yang membuat paten tentang divais solar sel modern.</p>
<p>Efisiensi divais solar sel dan harga pembuatan solar sel merupakan masalah yang paling penting untuk merealisasikan solar sel sebagai sumber energi alternatif. Efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan antara tenaga listrik yang dihasilkan oleh divais solar sel dibandingkan dengan jumlah energi yang diterima dari pancaran sinar matahari.<br />
.<br />
Pada tengah hari yang cerah radiasi sinar matahari mampu mencapai 1000 watt permeter persegi. Jika sebuah divais semikonductor seluas satu meter persegi memiliki efisiensi 10 persen maka modul solar sel ini mampu memberikan tenaga listrik sebesar 100 watt. Saat ini modul solar sel komersial berkisar antara 5 hingga 15 persen tergantung material penyusunnya. Tipe silikon kristal merupakan jenis divais solar sel yang memiliki efisiensi tinggi meskipun biaya pembuatannya relatif lebih mahal dibandingkan jenis solar sel lainnya.</p>
<p>Pembangkit energi surya sebenarnya tergantung pada efisiensi mengkonversi energi dan konsentrasi sinar matahari yang masuk ke dalam sel tersebut. Professor Smalley, peraih Nobel bidang kimia atas prestasinya menemukan Fullerene, menyatakan bahwa teknologi nano menjanjikan peningkatan efisiensi dalam pembuatan sel surya antara 10 hingga 100 kali pada sel surya. Smalley menambahkan bahwa cara terbaik untuk mendapatkan energi surya secara optimal telah terbukti ketika sel surya dimanfaatkan untuk keperluan satelit ruang angkasa dan alat alat yang diletakkan di ruang angkasa. Penggunaan sel surya dengan meletakkannya di ruang angkasa dapat dengan baik dilakukan karena teknologi nano diyakini akan mampu menciptakan material yang super kuat dan ringan yang mampu bertahan di ruang angkasa dengan efisiensi yang baik.</p>
<p>Perkembangan yang menarik dari teknologi sel surya saat ini salah satunya adalah sel surya yang dikembangkan oleh Michael Gratzel. Gratzel memperkenalkan tipe solar sel photokimia yang merupakan jenis solar sel exciton yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (<em>dye</em>). Jenis ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1991 oleh Gratzel, sehingga jenis solar sel ini sering juga disebut dengan sel Gratzel atau dye-sensitized <em>solar cells</em> (DSSC).</p>
<p>Sel Gratzel dilengkapi dengan pasangan redoks yang diletakkan dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun solar sel seperti ini memungkinkan bahan<br />
baku pembuat sel Gratzel lebih fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti screen printing.</p>
<p>Meskipun solar sel generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, solar sel jenis ini diperkirakan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan mengingat harga dan proses pembuatannya yang sangat murah.</p>
<p>Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadikan solar sel sebagai salah satu sumber energi masa depannya mengingat posisi Indonesia pada khatulistiwa yang memungkinkan sinar matahari dapat optimal diterima di permukaan bumi di hampir seluruh<br />
Indonesia.</p>
<p>Berdasarkan perhitungan Mulyo Widodo, dosen Teknik Mesin ITB yang mengembangkan solar sel merk SOLARE di pasar komersial Indonesia, dalam kondisi puncak atau posisi matahari tegak lurus, sinar matahari yang jatuh di permukaan panel surya di Indonesia seluas satu meter persegi akan mampu mencapai 900 hingga 1000 Watt. Lebih jauh pakar solar sel dari Jurusan Fisika ITB Wilson Wenas menyatakan bahwa total intensitas penyinaran perharinya di Indonesia mampu mencapai 4500 watt hour per meter persegi yang membuat<br />
Indonesia tergolong kaya sumber energi matahari ini. Dengan letaknya di daerah katulistiwa, matahari di<br />
Indonesia mampu bersinar hingga 2.000 jam pertahunnya.</p>
<p>Dengan kondisi yang sangat potensial ini sudah saatnya pemerintah dan pihak universitas membuat satu pusat penelitian solar sel agar Indonesia tidak kembali hanya sebagai pembeli divais solar sel di tengah melimpahnya sinar matahari yang diterima di bumi<br />
Indonesia.<br />
<em><br />
Brian Yuliarto, peneliti ISTECS, saat ini sebagai postdoctoral fellow di Energy Technology Research Institute, AIST Japan</em></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=14&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/energi-surya-alternatif-sumber-energi-masa-depan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknologi Sel Surya untuk Energi Masa Depan</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/teknologi-sel-surya-untuk-energi-masa-depan/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/teknologi-sel-surya-untuk-energi-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 03:31:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/teknologi-sel-surya-untuk-energi-masa-depan/</guid>
		<description><![CDATA[Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sebenarnya sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 1024 joule pertahun. Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0,1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=12&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sebenarnya sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 10<sup>24</sup> joule pertahun. Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0,1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini. Perkembangan yang pesat dari industri sel surya (solar sel) di mana pada tahun 2004 telah menyentuh level 1000 MW membuat banyak kalangan semakin melirik sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan ini.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari sebenarnya hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69% dari total energi pancaran matahari [1]. Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3 x 10&lt;SUP)24&lt; sup&gt; joule pertahun, energi ini setara dengan 2 x 10<sup>17</sup> Watt [1]. Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0.1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini [2].</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Cara kerja sel surya adalah dengan memanfaatkan teori cahaya sebagai partikel. Sebagaimana diketahui bahwa cahaya baik yang tampak maupun yang tidak tampak memiliki dua buah sifat yaitu dapat sebagai gelombang dan dapat sebagai partikel yang disebut dengan photon. Penemuan ini pertama kali diungkapkan oleh Einstein pada tahun 1905. Energi yang dipancarkan oleh sebuah cahaya dengan panjang gelombang L dan<span>  </span>frekuensi photon <em>V</em> dirumuskan dengan persamaan:</p>
<p>E = h.c/L</p>
<p>Dengan h adalah konstanta <em>Plancks</em> (6.62 x 10<sup>-34</sup> J.s) dan c adalah kecepatan cahaya dalam vakum (3.00 x 10<sup>8</sup> m/s). Persamaan di atas juga menunjukkan bahwa photon dapat dilihat sebagai sebuah partikel energi atau sebagai gelombang dengan panjang gelombang dan frekuensi tertentu [3]. Dengan menggunakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n, cahaya yang datang akan mampu dirubah menjadi energi listrik.</p>
<p>Hingga saat ini<span id="more-12"></span>terdapat beberapa jenis solar sel yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti untuk mendapatkan divais solar sel yang memiliki efisiensi yang tinggi atau untuk mendapatkan divais solar sel yang murah dan mudah dalam pembuatannya.</p>
<p>Tipe pertama yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti adalah jenis wafer (berlapis) silikon kristal tunggal. Tipe ini dalam perkembangannya mampu menghasilkan efisiensi yang sangat tinggi. Masalah terbesar yang dihadapi dalam pengembangan silikon kristal tunggal untuk dapat diproduksi secara komersial adalah harga yang sangat tinggi sehingga membuat solar sel panel yang dihasilkan menjadi tidak efisien sebagai sumber energi alternatif. Sebagian besar silikon kristal tunggal komersial memiliki efisiensi pada kisaran 16-17%, bahkan silikon solar sel hasil produksi SunPower memiliki efisiensi hingga 20%[www.sunpowercorp.com]. Bersama perusahaan Shell Solar, SunPower menjadi perusahaan yang menguasai pasar silikon kristal tunggal untuk solar sel.</p>
<p>Jenis solar sel yang kedua adalah tipe wafer silikon poli kristal. Saat ini, hampir sebagian besar panel solar sel yang beredar di pasar komersial berasal dari <em>screen printing</em> jenis silikon poli cristal ini. Wafer silikon poli kristal dibuat dengan cara membuat lapisan lapisan tipis dari batang silikon dengan metode <em>wire-sawing</em>. Masing-masing lapisan memiliki ketebalan sekitar 250</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Arial Unicode MS';">・</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">50 micrometer. Jenis solar sel tipe ini memiliki harga pembuatan yang lebih murah meskipun tingkat efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan silikon kristal tunggal. Perusahaan yang aktif memproduksi tipe solar sel ini adalah GT Solar, BP, Sharp, dan Kyocera Solar.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Kedua jenis silikon wafer di atas dikenal sabagai generasi pertama dari solar sel yang memiliki ketebalan pada kisaran 180 hingga 240 mikro meter. Penelitian yang lebih dulu dan telah lama dilakukan oleh para peneliti menjadikan solar sel berbasis silikon ini telah menjadi teknologi yang berkembang dan banyak dikuasai oleh peneliti maupun dunia industri. Divais solar sel ini dalam perkembangannya telah mampu mencapai usia aktif mencapai 25 tahun [1]. Modifikasi untuk membuat lebih rendah biaya pembuatan juga dilakukan dengan membuat pita silikon (ribbon si) yaitu dengan membuat lapisan dari cairan silikon dan membentuknya dalam struktur multi kristal. Meskipun tipe sel surya pita silikon ini memiliki efisiensi yang lebih rendah (13-15%), tetapi biaya produksinya bisa lebih dihemat mengingat silikon yang terbuang dengan menggunakan cairan silikon akan lebih sedikit.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Generasi kedua solar sel adalah solar sel tipe lapisan tipis (<em>thin film</em>). Ide pembuatan jenis solar sel lapisan tipis adalah untuk mengurangi biaya pembuatan solar sel mengingat tipe ini hanya menggunakan kurang dari 1% dari bahan baku silikon jika dibandingkan dengan bahan<br />
baku untuk tipe silikon wafer. Dengan penghematan yang tinggi pada bahun<br />
baku seperti itu membuat harga per KwH energi yang dibangkitkan menjadi bisa lebih murah.</p>
<p>Metode yang paling sering dipakai dalam pembuatan silikon jenis lapisan tipis ini adalah dengan PECVD dari gas silane dan hidrogen. Lapisan yang dibuat dengan metode ini menghasilkan silikon yang tidak memiliki arah orientasi kristal atau yang dikenal sebagai <em>amorphous</em> silikon (non kristal). Selain menggunakan material dari silikon, solar sel lapisan tipis juga dibuat dari bahan semikonduktor lainnya yang memiliki efisiensi solar sel tinggi seperti <em>Cadmium Telluride</em> (Cd Te) dan <em>Copper Indium Gallium Selenide</em> (CIGS).</p>
<p>Efisiensi tertinggi saat ini yang bisa dihasilkan oleh jenis solar sel lapisan tipis ini adalah sebesar 19,5% yang berasal dari solar sel CIGS [5]. Keunggulan lainnya dengan menggunakan tipe lapisan tipis adalah semikonduktor sebagai lapisan solar sel bisa dideposisi pada substrat yang lentur sehingga menghasilkan divais solar sel yang fleksibel. Kedua generasi dari solar sel ini masih mendominasi pasaran solar sel di seluruh dunia dengan silikon kristal tunggal dan multi kristal memiliki lebih dari 84% solar sel yang ada dipasaran (lihat Gambar 1) [4].</p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;"><a href="http://tfugm2002.files.wordpress.com/2007/02/gr1.JPG" title="gr1.JPG"><img width="249" src="http://tfugm2002.files.wordpress.com/2007/02/gr1.thumbnail.JPG?w=249&#038;h=204" alt="gr1.JPG" height="204" style="width:249px;height:204px;" /></a></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;"><br />
<em>Gambar 1. Sebaran jenis solar sel yang berada di pasar komersial yang masih didominasi oleh solar sel generasi pertama (World market 2001 by Technology).</em></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Penelitian agar harga solar sel menjadi lebih murah selanjutnya memunculkan generasi ketiga dari jenis solar sel ini yaitu tipe solar sel polimer atau disebut juga dengan solar sel organik dan tipe solar sel foto elektrokimia. Solar sel organik dibuat dari bahan semikonduktor organik seperti <em>polyphenylene vinylene</em> dan <em>fullerene</em>.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Arial;">Berbeda dengan tipe solar sel generasi pertama dan kedua yang menjadikan pembangkitan pasangan electron dan <em>hole</em> dengan datangnya photon dari sinar matahari sebagai proses utamanya, pada solar sel generasi ketiga ini photon yang datang tidak harus menghasilkan pasangan muatan tersebut melainkan membangkitkan <em>exciton</em>. <em>Exciton</em> inilah yang kemudian berdifusi pada dua permukaan bahan konduktor (yang biasanya di rekatkan dengan organik semikonduktor berada di antara dua keping konduktor) untuk menghasilkan pasangan muatan dan akhirnya menghasilkan efek arus foto (<em>photocurrent</em>) [5-6].</p>
<p>Tipe solar sel photokimia merupakan jenis solar sel <em>exciton</em> yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (dye). Jenis ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Graetzel pada tahun 1991 sehingga jenis solar sel ini sering juga disebut dengan <em>Graetzel</em> sel atau <em>dye-sensitized solar cells</em> (DSSC) [2].</p>
<p>Graetzel sel ini dilengkapi dengan pasangan redok yang diletakkan dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun solar sel seperti ini memungkinkan bahan<br />
baku pembuat <em>Graetzel</em> sel lebih fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti <em>screen printing</em>. Meskipun solar sel generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, solar sel jenis ini akan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan mengingat hargan dan proses pembuatannya yang sangat murah.</p>
<p>Pertumbuhan teknologi sel surya di dunia memang menunjukkan harapan akan solar sel yang murah dengan memiliki efisiensi yang tinggi. Sayangnya sangat sedikit peneliti di<br />
Indonesia yang terlibat dengan hiruk pikuk perkembangan tentang teknologi sel surya ini. Sudah seharusnya pemerintah secara jeli melihat potensi masa depan<br />
Indonesia yang kaya akan sinar matahari ini dengan mendorong secara nyata penelitian di bidang energi surya ini. oleh: Dr.Brian Yuliarto &lt; <a href="http://www.beritaiptek.com/">www.beritaiptek.com</a><font face="Times New Roman"> &gt;</font></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=12&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/teknologi-sel-surya-untuk-energi-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tfugm2002.files.wordpress.com/2007/02/gr1.thumbnail.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">gr1.JPG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Solar Cells Generasi ketiga: Teknologi Nano</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/solar-cells-generasi-ketiga-teknologi-nano/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/solar-cells-generasi-ketiga-teknologi-nano/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 02:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/solar-cells-generasi-ketiga-teknologi-nano/</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Brian Yuliarto Jangan Berdiam di ”Comfort Zone”! Seorang doktor di bidang nano technology yang baru menyelesaikan program post doctoral di Energy Technology Research Institute, National Institute of Advanced Industrial Science and Technology Jepang. Sampai saat ini masih terlihat bersemangat menyerukan penyelamatan negara lewat wacana energi alternatif. Simak obrolan hangat dari pandangannya mengenai ancaman akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=10&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Dr. Brian Yuliarto<br />
</span><span style="font-size:18pt;color:black;">Jangan Berdiam di ”Comfort Zone”!</span></font></p>
<p style="margin:0;"><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Seorang doktor di bidang nano technology</span><span style="color:black;"> yang baru menyelesaikan program <em>post doctoral</em> di Energy Technology Research Institute, National Institute of Advanced Industrial Science and Technology Jepang. </span><span style="color:black;">Sampai saat ini masih terlihat bersemangat menyerukan penyelamatan negara lewat wacana energi alternatif. Simak obrolan hangat dari pandangannya mengenai ancaman akan permasalahan energi hingga pandangannya mengenai gerakan mahasiswa saat ini, kepada <em>Kampus</em> yang berlangsung di kampus ITB.</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"></span></font><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;">Mengapa sekarang fokus ke energi?</span></em></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;"></span></em><span style="color:black;"></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Karena energi itu masalah penting dan fundamen. Masalahnya pertahanan energi kita tidak kuat. Indikasinya ketika harga minyak dunia naik, maka harga bahan bakar minyak (BBM) pun naik tanpa melihat daya beli masyarakat yang lemah. Ini sebenarnya pola pemerintah yang masih berpikir linier. Ketika minyak dunia naik, APBN defisit, harga BBM harus naik juga. Padahal, ketika minyak naik, BBM <em>nggak</em> perlu naik. Caranya, bahan bakar minyaknya ini kita ubah. Ganti dengan energi alternatif, contoh dengan batu bara yang lebih murah. Di situlah kita butuh kebijakan energi yang tangguh, salah satunya dengan mempercepat proses diversifikasi energi. </font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;">Dari mana kita bisa memulai diversifikasi energi?<span id="more-10"></span></span></em></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;"></span></em><span style="color:black;"></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Salah satu contoh adalah harus ada dorongan yang kuat dari pemerintah untuk mempercepat proses teknologi pencairan batu bara, sehingga bisa digunakan secara praktis oleh masyarakat. Batu bara <em>kan</em> jauh lebih murah dari minyak bumi. Sehingga ketika ketergantungan terhadap minyak bumi ini sudah berkurang, pada saat kenaikan BBM kemarin, kita seharusnya ekspor minyak, dan mulai gunakan batu bara yang lebih murah. Bukan menggunakan yang mahal malah mengekspor yang murah.</font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><em><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Manfaat konkret dari diversifikasi energi?</font></span></em></p>
<p><em><span style="color:black;"></span></em><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Di Jepang ketika harga minyak dunia naik 50%, harga BBM di sana naik pula 50%. Tapi ini tidak membuat harga-harga kebutuhan lainnya ikut naik. Karena mereka mengembangkan sebuah sistem ketahanan energi yang baik. Hal ini kemudian menjelaskan hubungan antara transportasi dan energi. Alat transportasi massal di sana menggunakan energi alternatif yang lepas dari ketergantungan asing atau harganya tidak fluktuatif. Salah satunya dengan mengembangkan <em>solar cell</em> yang menyuplai listrik untuk kereta api listrik yang menjadi sarana transportasi utama. </font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;">Kesadaran di tengah masyarakat Indonesia sendiri mengenai diversifikasi energi?</span></em></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;"></span></em><span style="color:black;"></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Seharusnya dengan momentum harga BBM kemarin, masyarakat banyak sadar. Betapa ternyata energi kita sangat rapuh. Seharusnya menjadi momentum, sehingga masing-masing pihak bekerja menuju arah yang sama. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Dan seharusnya teman-teman mahasiswa cukup aktif mengkaji isu-isu seperti ini. Isu-isu nasional, yang ketika usia kita nanti pada posisi pemegang kebijakan akan jadi masalah besar dan pelik.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">(dalam salah satu karya tulisnya yang dimuat dalam &#8220;Serba-Serbi Energi, 2005&#8243;, Dr. Brian memaparkan akan keterlambatan proses diversifikasi energi di Indonesia yang akan menghadapi kelangkaan minyak bumi dalam kurun waktu 18 tahun ke depan. Kisaran waktu ketika generasi muda sekarang akan berada pada usia di level-level pemegang kebijakan-).</font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;">Yang Anda cermati dari sensitivitas mahasiswa sekarang terhadap isu-isu nasional terutama energi?</span></em><span style="color:black;"></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Masih sangat kurang dan lebih dominan pada hal-hal yang bersifat <em>entertain</em> dibanding kajian-kajian yang sebenarnya kita butuh. Di negara-negara maju seperti Jepang, semua sistem sudah berjalan bagus, pemerintah punya dana yang cukup besar, penelitian serius sekali mereka garap, <em>scientific culture</em> sudah sangat tumbuh. Anak muda di sana cukup hedonis, tetapi karena sistem sudah stabil, generasi muda cukup mau <em>nggak</em> mau terbawa sistem. Mereka <em>funky,</em> tapi kalau malam begadang juga meneliti. Sedangkan negara kita <em>kan</em> masih berkembang dan membangun sistem. </font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><em><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">B</font></span></em><em><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">agaimana Anda membaca gerakan mahasiswa saat ini?</font></span></em></p>
<p><em><span style="color:black;"></span></em><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Permasalahannya sekarang mahasiswa kehilangan orientasi gerakan. Dia tidak memahami ada di fase apa dia sekarang. Tidak bisa merumuskan gerakan apa yang strategis yang bisa dikontribusikan untuk negara kita. Ini yang membuat atmosfer gerakan mahasiswa tidak ada di hampir semua kampus. Sangat disayangkan, karena bagaimanapun gerakan mahasiswa sangat vital dalam proses perubahan sistem. </font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;">Fase apakah yang seharusnya mahasiswa jalani saat ini? </span></em></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;"></span></em><span style="color:black;"></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Kalau yang saya perhatikan pascagerakan mahasiswa reformasi 1998, setelah sukses mendobrak otoritarian itu, langkah berikutnya adalah <em>fase contain</em>. Gerakan yang sifatnya <em>contain</em>. Saya sendiri cukup <em>interest</em> kalau diundang ke <em>temen</em> mahasiswa. Karena saya juga ingin mengajak teman-teman mahasiswa berpikir, kita <em>nih</em> jangan berdiam di kelompok <em>comfort zone</em>. Sehingga paradoks. </font></span><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Kampus dan masyarakat sekarang paradoks. Padahal seharusnya kampus menyuarakan apa yang dirasakan masyarakat. Masyarakat kita sekarang <em>kan</em> sangat berat. Satu kepala pendapatannya rata-rata Rp 400.000,00, itu berdasarkan WHO. Jadi, <em>kalo</em> suami istri gajinya masing-masing Rp 400,000,00, maka berdua hanya Rp 800.000,00 dan itu merupakan pendapatan 50% penduduk Indonesia. <em>Kalo</em> kemudian kampus seperti apa yang kita lihat sekarang, acara senang-senang, <em>entertainment</em> dsb., itu <em>kan</em> potret masyarakat atau komunitas yang tidak ada masalah. </span><span style="color:black;">Saya pikir amanat negara kepada mahasiswa bukan seperti itu.</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"></span></font><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;">Langkah konkret mengisi fase </span></em><span style="color:black;">contain sendiri yang paling cocok saat ini?</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Melakukan kajian-kajian <em>contain movement</em>. Kajian yang bisa mendorong pimpinan-pimpinan kampus yang notabene sebenarnya mereka mempunyai kompetensi yang sangat baik mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi, sehingga pembangunan sistem di<br />
Indonesia tidak hanya didominasi politisi. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Ini memang tugas mahasiswa bukan masuk ke wilayah kajian <em>core</em>-nya. Agak berat mahasiswa memberikan rekomendasi contohnya di bidang kebijakan energi. Tapi, dia bisa mewadahi.</font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;">Adakah energi alternatif yang Anda coba bangun sendiri?</span></em></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;"></span></em><span style="color:black;"></span></font><font face="Times New Roman"><em><span style="color:black;">Solar cell</span></em><span style="color:black;"> generasi ketiga yang memanfaatkan tumbuh-tumbuhan (organik). Ini masih dalam proses, efisiensinya masih kecil 11%, sedangkan yang konvensional (berbahan silikon) 16-20%. Namun keuntungannya harganya jauh lebih murah dibanding generasi pertama yang terbuat dari silikon dan salah satu bahan dasarnya mudah ditemukan di<br />
Indonesia yaitu Zno (zinc-bahan dasar seng). Pengembangannya menggunakan teknologi nano yang memungkinkan sel-sel tumbuhan tadi masuk ke pori-pori Zno berukuran nano.*** <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/">www.pikiran-rakyat.com</a></span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=10&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/02/01/solar-cells-generasi-ketiga-teknologi-nano/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Solar Cells bisa Ekonomis</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/01/30/solar-cells-bisa-ekonomis/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/01/30/solar-cells-bisa-ekonomis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2007 05:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/01/30/solar-cells-bisa-ekonomis/</guid>
		<description><![CDATA[Energi surya bisa segera dimulai pengembangannya secara besar-besaran di Indonesia dengan penemuan sel surya (solar-cell) tipe dye sensitive. Teknologi ini jauh lebih ekonomis dari silikon sehingga tak memerlukan investasi mahal. &#8220;Selama ini, meski Indonesia negara tropis yang sinar mataharinya melimpah ruah, energi surya tak bisa dikembangkan secara optimal karena investasinya sangat mahal dan sel suryanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=7&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Verdana">Energi surya bisa segera dimulai pengembangannya secara besar-besaran di Indonesia dengan penemuan sel surya (solar-cell) tipe <em>dye sensitive</em>. Teknologi ini jauh lebih ekonomis dari silikon sehingga tak memerlukan investasi mahal.</p>
<p>&#8220;Selama ini, meski Indonesia negara tropis yang sinar mataharinya melimpah ruah, energi surya tak bisa dikembangkan secara optimal karena investasinya sangat mahal dan sel suryanya masih diimpor,&#8221; kata Pakar Teknik Fisika ITB, Dr. Brian Yuliarto, di sela Konferensi Internasional <em>Advanced Material and Practical Nanotechnology</em> di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Banten, Senin (4/9).</p>
<p>Sel surya tipe <em>dye sensitive</em> menggunakan bahan Titanium Dioksida (TiO2), Seng Dioksida (ZnO2) atau sejenisnya. Material tersebut dapat menggantikan fungsi silikon yang saat ini menghabiskan 70 persen dari harga sel surya itu sendiri.</p>
<p>&#8220;Proses pembuatan sel surya dengan silikon memerlukan peralatan khusus yang mahal dan ruang yang bersih sehingga harga sel surya menjadi mahal dan menghambat masyarakat menggunakan tenaga matahari,&#8221; katanya. Sedangkan, harga TiO2 dan ZnO2, ujar penemu sel surya tipe <em>dye sensitive</em> itu, seperempat lebih murah harga silikon.</p>
<p>&#8220;Itulah mengapa dibandingkan dengan harga listrik PLN, listrik dari sistem surya itu lebih mahal 30 kalinya. Jika listrik PLN harus dibayar Rp100 ribu per bulan, maka listrik dari sel surya memerlukan investasi awal Rp3 juta, meski untuk seterusnya tak perlu membayar, namun daya tahannya sudah habis sebelum investasi itu balik modal,&#8221; katanya.</p>
<p>Namun ia mengakui, jika efisiensi energi surya dari bahan silikon mencapai 24 persen, TiO2 hanya 11 persen, bahkan ZnO2 lebih rendah lagi. </font></span><font face="Verdana"><span style="font-size:10pt;">Tapi, di masa depan tipe dye sensitive ini akan semakin efisien.</p>
<p>Pada 2008, setelah paten sel surya habis masa berlakunya dan energi surya semakin efisien, ujarnya, maka dunia akan besar-besaran menggunakan sel surya sebagai energi alternatif. &#8220;Untuk sekarang, seharusnya sudah dimulai penggunaan energi surya untuk lampu-lampu jalan dan rambu lalu lintas di Jakarta,&#8221; ujarnya.</p>
<p></span><span style="font-size:10pt;">Sumber : Antara/Kompas/Wah/WB </span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=7&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/01/30/solar-cells-bisa-ekonomis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknologi Sel Surya: Perkembangan Dewasa Ini dan yang Akan Datang</title>
		<link>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/01/30/5/</link>
		<comments>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/01/30/5/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2007 01:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tfugm02</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi Alternatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tfugm2002.wordpress.com/2007/01/30/5/</guid>
		<description><![CDATA[Masalah energi tampaknya akan tetap menjadi topik yang hangat sepanjang peradaban umat manusia. Upaya mencari sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil masih tetap ramai dibicarakan. Ada beberapa energi alam sebagai energi alternatif yang bersih, tidak berpolusi, aman dan dengan persediaan yang tidak terbatas. Di antaranya adalah energi surya, angin, gelombang dan perbedaan suhu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=5&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"><a href="http://tfugm2002.files.wordpress.com/2007/01/solar.jpg" title="solar.jpg"></p>
<p style="text-align:center;"><img width="515" src="http://tfugm2002.files.wordpress.com/2007/01/solar.jpg?w=515&#038;h=315" alt="solar.jpg" height="315" style="width:515px;height:315px;" /></p>
<p></a></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Masalah energi tampaknya akan tetap menjadi topik yang hangat sepanjang peradaban umat manusia. Upaya mencari sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil masih tetap ramai dibicarakan.<br />
Ada beberapa energi alam sebagai energi alternatif yang bersih, tidak berpolusi, aman dan dengan persediaan yang tidak terbatas. Di antaranya adalah energi surya, angin, gelombang dan perbedaan suhu air laut. Di masa yang akan datang, dengan adanya kebutuhan energi yang makin besar, penggunaan sumber energi listrik yang beragam tampaknya tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, pengkajian terhadap berbagai sumber energi baru tidak akan pernah menjadi langkah yang sia-sia. Tulisan ini akan membahas perkembangan teknologi sel surya dewasa ini sebagai komponen utama untuk pembangkit listrik tenaga matahari dan prospeknya di masa depan dengan penekanan pada material pembentukan sel surya itu sendiri. </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Fotovoltaik dan permasalahannya</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Teknologi fotovoltaik yang mengkonversi langsung cahaya matahari menjadi energi listrik dengan menggunakan divais semikonduktor yang disebut sel surya (solar cells) merupakan salah satu pilihan yang menarik. Apalagi buat<br />
Indonesia yang terletak di katulistiwa dan terdiri dari banyak kepuluan dan pegunungan yang menyulitkan penyebaran jaringan transmisi listrik. Secara umum listrik tenaga surya ini sudah dapat diterima sebagai sumber energi alternatif. Persoalan yang ada sekarang adalah harganya yang masih mahal dibandingkan dengan listrik yang dibangkitkan dengan sumber energi lain, sehingga penggunaannya sekarang terbatas hanya dalam skala kecil seperti pada barang-barang elektronik dan juga digunakan sebagai pembangkit listrik pada daerah-daerah yang masih sulit dijangkau oleh jaringan listrik. Usaha untuk menurunkan harga panel sel surya dapat dilakukan dengan menaikkan efisiensi (konversi) dari sel tersebut yaitu parameter yang menyatakan prosentase dari besarnya energi listrik yang bisa dihasilkan oleh sel surya dibandingkan dengan besarnya energi cahaya yang diterima. Usaha lain adalah perlunya kampanye penggunaan secara massal dari sel surya ini untuk dapat meningkatkan volume produksinya. Dengan menaikkan efisiensi dari sel surya, disamping menurunkan harga pembuatannya, juga akan memperkecil luas permukaan modulnya untuk daya keluaran yang sama, sehingga lebih menghemat tempat.</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"><span id="more-5"></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Teknologi Silikon dan GaAs</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Pada prinsipnya, sel surya adalah identik dengan piranti semikonduktor dioda. Hanya saja dewasa ini strukturnya menjadi sedikit lebih rumit karena perancangannya yang lebih cermat untuk meningkatkan efisiensinya. Untuk penggunaan secara luas dalam bentuk arus bolak-balik, masih diperlukan peralatan tambahan seperti <strong>inventer</strong>, baterei penyimpanan dan lain-lain. Kemajuan dari penelitian akan material semikonduktor sebagai bahan inti sel surya, telah menjadi faktor kunci bagi pengembangan teknologi ini. Dalam teknologi sel surya, terdapat berbagai pilihan penggunaan material intinya. Kristal tunggal silikon sebagai pioner dari sel surya memang masih menjadi pilihan sekarang karena teknologinya yang sudah mapan sehingga bisa mencapai efisiensi lebih dari 20% untuk skala riset. Sedangkan modul/panel sel surya kristal silikon yang sudah diproduksi berefisiensi sekitar 12%. Namun demikian, penggunaan material ini dalam bentuk lempengan (waver) masih digolongkan mahal dan juga volume produksi lempeng silikon tidak dapat mencukupi kebutuhan pasar bila terjadi penggunaan sel surya ini secara massal. Sehingga untuk penggunaan secara besar-besaran harus dilakukan usaha untuk mempertipis lapisan silikonnya dari ketebalan sekarang yang mencapai ratusan mikron. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Material yang berefisiensi tinggi lainnya adalah dari paduan golongan unsur III-V GaAs dan InP. Walaupun secara teoritik efisiensinya bisa mencapai 35%, tetapi sulitnya menumbuhkan kristal tunggal berkualitas tinggi dari material-material di atas menyebabkan harganya tergolong sangat mahal sehingga penggunaannya masih terbatas, terutama hanya untuk penggunaan di angkasa luar. Ini ditunjang lagi oleh sifat material tersebut yang tahan terhadap radiasi-radiasi di angkasa luar. Material golongan ini memang tidak dipertimbangkan untuk digunakan secara massal. Usaha yang sedang diupayakan sekarang untuk menekan sedikit harga pembuatannya adalah menumbuhkan lapisan GaAs di atas lempeng silikon. Namun, penggabungan dari dua material dengan struktur berbeda ini menyebabkan timbulnya strain pada lapisan antarmukanya sehingga menurunkan efisiensi. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Sel surya film tipis</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Pilihan yang paling diharapkan saat ini untuk dapat diproduksi secara massal dengan harga yang murah adalah sel surya yang terbuat dari film tipis (<strong>Thin film solar cells</strong>). Di antaranya ada tiga material yang sedang dikembangkan secara intensif yaitu CuInSe2 (atau paduannya seperti CuIns2 atau CuInGaSe2 ), CdTe dan silikon amorf. Dengan tingkat efisiensi sekitar 10%, sel surya film tipis ini sudah layak untuk diproduksi massal dengan harga yang dapat bersaing dengan sumber energi listrik yang lain. Untuk ketiga material di atas hanya dibutuhkan ketebalan sekitar satu mikron untuk membentuk sel surya yang efisien. Ini disebabkan karena daya serap cahayanya yang besar. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Sel surya film tipis CdTe telah dapat diproduksi dalam bentuk modul percobaan dengan efisiensi sekitar 10%. Jadi cukup layak untuk diproduksi dalam bentuk modul percobaan dengan efisiensi sekitar 10%. Jadi cukup layak untuk diproduksi secara massal. Persoalannya adalah material ini belum dapat diterima dengan baik karena mengandung unsur <strong>cadmium</strong>. Bila rumah yang atapnya dipasang sel surya CdTe terbakar, unsur cadmium ini akan menimbulkan polusi yang membahayakan.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Material </span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">CuInSe2</font></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> adalah juga diharapkan dapat digunakan secara luas. Material dengan daya absorpsi cahaya yang besar ini, secara teoritik mempunyai efisiensi 20% bahkan lebih. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Dalam skala laboratorium saat ini telah dibuat efisiensi di atas 15%. Kesulitan dari material yang masih baru ini adalah sukarnya mengontrol komposisi dari ketiga unsur pembentukannya terutama saat diproduksi dalam ukuran yang besar secara massal, sehingga masih mengalami kesulitan dalam memproduksi modul dengan kualitas yang sama. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Mencari proses pembuatan yang murah dan layak untuk produksi massal adalah masalah yang menjadi pusat perhatian untuk material golongan ini. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Yang terakhir adalah silikon amorf. Material ini juga dikenal sebagai bahan dasar pembuatan flat panel display untuk layar komputer atau televisi portabel. Ini dimungkinkan karena material ini bisa ditumbuhkan dalam ukuran besar dengan lebar lebih dari satu meter. Film tipis silikon amorf biasanya dibuat dengan menguraikan gas monosilane (SiH4 ) dalam plasma yang dibangkitkan oleh penguat frekuensi radio (glow discharge) pada suhu yang relatif rendah (250<sup>o</sup>C). </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Material ini tergolong yang paling murah di antara semua sel surya film tipis. Secara teoritik, dapat menghasilkan efisiensi sekitar 15-16%. Kelemahannya adalah adanya degrasi/penurunan efisiensi sekitar 30% dari harga awal, saat pertama kali disinari walaupun pada akhirnya menjadi stabil (efek Staebler Wronski). Panel sel surya dengan efisiensi (setelah terdegradasi) 10% sudah berhasil dibuat. Walaupun nilai efisiensi tersebut sudah masuk kategori layak produksi, usaha untuk menyempurnakan proses pembuatannya masih terus berlangsung guna menekan serendah mungkin harga jualnya. </span><br />
<span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> dua hal lain yang juga sering dipertanyakan orang terhadap sel surya. Yang pertama adalah polusi. Meskipun saat menggunakannya, sel surya tidak menyebabkan polusi tapi saat pembuatannya (seperti industri semikonduktor lainnya) tetap menimbulkan limbah/polusi. Yang kedua adalah adanya </span><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">parameter \x{201C}energy pay-back time\x{201D} yang</font></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> menyatakan lamanya waktu yang diperlukan oleh sel surya untuk menghasilkan energi yang sama dengan energi yang dipakai saat pembuatan sel surya itu sendiri. Terhadap dua hal di atas, sel surya <strong><span style="color:red;">film tipis silikon amorf</span></strong> ternyata lebih unggul dibandingkan dengan sel surya lainnya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Sel surya di Jepang</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Negara Jepang lewat proyek <span style="color:red;">Sunshine</span>-nya dimana penulis pernah ikut terlibat selama<br />
lima tahun, sangat menaruh minat pada material silikon amorf yang diharapkan dapat digunakan secara massal oleh penduduknya. Sesuai dengan fleksibilitas dari silikon amorf ini yang dapat ditumbuhkan pada substrat apa saja, saat ini sedang diteliti penumbuhan material ini di atas plastik khusus sebagai pengganti kaca sehingga menjadi lebih ringan dan murah. Sewaktu proyek Shunshine yang disponsori oleh MITI Jepang ini dimulai tahun 1974, harga sel surya adalah lebih dari 20.000 yen/watt-puncak. Dewasa ini, harganya telah mencapai sekitar 300-400 yen/watt-puncak. Diharapkan dengan usaha keras pada R&amp;Dnya, harga 100 yen/watt akan dicapai sekitar tahun 2000. Ini berarti ekivalen dengan harga energi listrik sebesar 10-20 yen/kWh atau sekitar 10-20 sen dollar/kWh, harga yang bersaing dengan listrik yang dibangkitkan secara konvensional. Pemerintah Jepang juga sudah mengeluarkan perundangan untuk memungkinkan penjualan kelebihan listrik yang dihasilkan dari pemakai sel surya ke perusahaan listrik. Jadi buat Jepang yang memang tidak memiliki sumber enrgi fosil yang mencukupi ini, listrik tenaga surya bukanlah terbatas pada penggunaan yang khusus di daerah terpencil tapi merencanakan penggunaan secara massal untuk rumah-tinggal di<br />
kota, sekolah dan fasilitas umum lainnya mulai tahun 2000. Untuk mendukung hal ini, mulai beberapa tahun yang lalu, pemerintah Jepang memberikan subsidi sebesar 60% dari harga jualnya buat rumah-tinggal yang ingin memasang panel sel surya dengan daya keluaran 2-3 kW. Kampanye seperti ini memang bertujuan untuk lebih memasyarakatkan penggunaan dari sel surya sehingga diharapkan dapat menurunkan harga pembuatannya karena produksi secara massal. Buat kita di Indonesia, pertimbangan penggunaan sel surya seharusnya bisa menjadi lebih layak lagi, mengingat negara kita terletak di katulistiwa yang menerima sinar matahari sepanjang tahun dan juga cukup tersedia lahan untuk menempatkan panel sel surya bila tidak ingin diletakkan di atap rumah. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Pemilihan material yang tepat untuk produksi sel surya bukanlah suatu harga mati. Ini dikarenakan adanya karakteristik yang berbeda-beda dari sel surya tersebut. Jadi seperti saat ini ada berbagai jenis bahan bakar untuk kendaraan bermotor seperti premium, solar dan sebagainya, sel surya pun nantinya akan menawarkan bermacam-macam jenis di pasaran, bergantung pada spesifikasi kebutuhan kita masing-masing. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Di Indonesia</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Untuk kita di Indonesia, walaupun memang masih ada alternatif energi yang lain, ada baiknya kita terlibat secepatnya dalam teknologi pembuatan sel surya ini. Sel surya sebagai suatu divais semikonduktor terkait erat dengan teknologi semikonduktor itu sendiri. Jadi pengembangan teknologi ini bisa dijalankan bersama-sama dengan pengembangan divais-divais semikonduktor lainnya untuk aplikasi mikroelektronika. Perbedaan besarnya adalah terletak pada dimensinya, dimana sel surya harus difabrikasi dalam ukuran sebesar mungkin sedangkan divais mikroelektronika menuju ke arah pengecilan. Jadi penguasaan teknologi ini akan dengan sendirinya memudahkan penguasaan teknologi semikonduktor lainnya. Hal ini sejalan dengan usaha pengembangan industri elektronika di<br />
Indonesia. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Secara umum, penggunaan panel photovoltaik oleh pemerintah dikoordinir oleh BPP Teknologi. Beberapa tempat yang diketahui penulis sedang melakukan aktivitas pembuatan sel surya ini di<br />
Indonesia adalah di <em>Puspitek Serpong</em>, <em>LEN</em> dan <em>ITB</em>. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Usaha seperti ini diharapkan bisa menjadi embrio bagi industri sel surya dalam negeri atau bahkan industri semikonduktor. Partisipasi seperti ini sangat strategis, selagi teknologi ini belum jenuh dan masih dalam tahap mencari bentuk yang optimal. Kalau hal ini tidak dilakukan sekarang, dikawatirkan kita bisa menjadi pengimpor sel surya terbesar dikemudian hari, seperti pengalaman kita untuk bidang teknologi tinggi lainnya. </span><em><u><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;">Sumber</span></u></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> : <a target="_top" href="http://www.elektroindonesia.com/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;">Elektro Indonesia 4/1996</span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Helvetica;"> </span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tfugm2002.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tfugm2002.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tfugm2002.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tfugm2002.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tfugm2002.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tfugm2002.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tfugm2002.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tfugm2002.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tfugm2002.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tfugm2002.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tfugm2002.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tfugm2002.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tfugm2002.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tfugm2002.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tfugm2002.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tfugm2002.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tfugm2002.wordpress.com&amp;blog=731212&amp;post=5&amp;subd=tfugm2002&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tfugm2002.wordpress.com/2007/01/30/5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/962a988036251651162b166bf54c1c07?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tfugm02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tfugm2002.files.wordpress.com/2007/01/solar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">solar.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
